Oleh: Hamdan Suhaemi
Belakangan muhibbin habaib mulai buat framing seolah KH. Imaduddin Usman al-Bantani mengajarkan umat untuk benci habaib, benci pada ahli bait. Framing demikian salah dan keliru.
Penelitiannya bertujuan membebaskan dari pengakuan-pengakuan cucu Nabi, pengakuan satu darah dari darah Nabi, sementara perilakunya jauh dari akhlaknya Nabi, lebih tragisnya lagi klaim itu jadi kedok untuk menjajah pribumi secara spiritual.
Para muhibbin habaib perlu tahu bahwa Kiai Imad tidak bertujuan membangun narasi kebencian terhadap ahlul bait dan terhadap dzuriyat Nabi. Jelasnya tidak sama sekali. Murni bermaksud agar umat sadar bahwa selama ini ada yang keliru soal ketersambungan nasab Ba'Alawi hingga Rosulullah S.a.w, maka dikaji dengan pendekatan ilmiah, dan didasarkan aspek epistemologis. Selain itu tidak ada anjuran untuk membenci habaib.
Jika ada kesimpulan ibthal atas nasab Ba'Alawi tidak sama sekali membenci pada personnya habaib, tetap penghormatan atas habaib didasarkan atas penghormatan ilmu dan adabnya. Mengibthal nasab Ba'Alawi tersebut berdasarkan sumber kitab-kitab nasab yang mu'tamad, karena syuhroh-nya keturunan Rosulullah itulah terdapat di kitab-kitab nasab, jadi kuat sebagai sumber dalam mengetahui kesahihan nasab, dan kiai Imad punya banyak kitab tentang nasab yang ditulis tidak jauh dari kehidupan Sayid Ahmad al-Muhajir yang selama ini dianggap sebagai ayahnya Ubaidillah (moyang Ba'Alawi).
Yang saya ketahui selama membersamai polemik nasab ini, Kiai Imad hanya butuh jawaban secara ilmiah pula berdasarkan sumber rujukan kitab-kitab nasab yang sezaman dengan sumber kitab-kitab nasab yang dirujuk oleh Kiai Imad. Tetapi menunggu anti tesis ini sudah berjalan hampir 2 tahun. Padahal tidaklah viral di kemudian hari jika Rabithah Alawiyah langsung merespon dan membuat bantahan atau anti tesisnya itu.
Kepada para muhibbin habaib perlu sadar bahwa pemikiran ya dijawab dengan pemikiran, penelitian dijawab dengan penelitian, dan jangan ikut campur memperkeruh suasana polemik tersebut, hanya karena diperalat oleh oknum habib yang sudah kadung benci pada kiai Imad, sebab tahu diri bahwa mereka para Habaib tengah mengalami devisit intelektual akibat terlalu jauh terlibat dalam politik praktis.
Kita warga Nahdliyyin terkait polemik harus menghargai produk pemikiran ulama, harus dewasa dan sadar bahwa kita sudah terbiasa atas ikhtilaf atau khilafiyah. Jadi jangan lalu bersikap uring-uringan membenci kiai Imad sementara kiai Imad sendiri tidak sama sekali mengajarkan kebencian. Yang dibenci itu mungkin perilaku bejad dari oknum habib dan oknum-oknum di luar golongan Ba'Alawi tentunya.
Harusnya habaib mau mengambil pelajaran dari ramainya polemik nasab ini dengan refleksi atas diri, refleksi atas sikapnya selama ini yang sudah jauh menyimpang dari akhlak Rosulullah S.a.w. Kemudian tidak perlu menghasut dan menggerakkan para muhibbinnya untuk menyerang dengan cara framing-framing bedebah itu.
Artikel Terkait
Orang Bogor Berani "Lawan" Ibu Peminta yang Suka Maksa, Alhasil Kabur Terbirit-birit
Rasain...Doyan Selingkuh, Seorang Pria Berkeluarga Digerebek Teman-temannya Hingga Viral !
31 Pemuda Dilantik Jadi Pengurus Kader Inti Pemuda Anti Narkoba Kota Bandung Periode 2024-2026
Pelecehan Seksual Lagi, Pelaku 2 Pria Injak Alat Vital Korban Kemudian Diunggah di Medsos
Wali Songo Bermadzhab Syafi'i, Fakta Manuskrip Kuno Kanjeng Sunan Bonang Tahun 1595 M
Seberapa Kebal Anggota Komponen Cadangan (Komcad) Terhadap Virus Radikalisme
Probabilitas dalam Kemustahilan, Makna Kisah Julius Caesar (Part I)
Kadisdik Jabar Komitmen dalam Mendukung Indonesia Tanpa Korupsi
Aktivis Pergerakan Sayangkan Ketidakharmonisan Sekda dengan Para Kepala OPD, Bupati Cianjur Kemana?
Misteri Pembunuhan RM Terungkap, Selalu Waspada dengan Orang Yang Baru Kenal