Di masa kini, demokrasi di Indonesia masih setengah matang. Bagaimanapun, demokrasi itu juga sebuah journey yang terus-menerus memerlukan palu dan godam agar berbentuk baik.
Bagaimana caranya? Aneka suara kritis itu, yang memang substansial, penting untuk kita dengar sebagai revisi undang-undang berikutnya.
Misalnya, sekarang ini perkara bansos (bantuan sosial). Kita sering mendengar kritik teman-teman Civil Society mengenai Bansos di balik kemenangan pilpres.
Maka saatnya kritik itu kita transformasikan menjadi input bagi undang-undang yang baru. Katakanlah undang-undang mengenai presiden.
Perlu diatur di sana. Misalnya. sebulan sebelum hari pencoblosan, Bansos dilarang diberikan yang berupa sembako, atau yang berupa bantuan tunai langsung. Tapi subsidi BBM dan subsidi listrik boleh jalan terus.
Selesai pemungutan suara, bansos itu boleh dibagikan lagi, sesuai prosedur. Dengan cara ini, kritik itu fungsional mengubah aturan main politik melalui undang- undang. Politik jalanan, atau politik di talk show diangkat menjadi politik legaslasi.
Alasan ketiga kita harus move on karena kita ingin menundukkan diri kepada politik yang jauh lebih besar. Di hadapan kita sudah terhidang Visi Indonesia Emas 2045.
Indonesia diprediksi oleh berbagai lembaga yang kredibel bahwa di tahun 2045, 20 tahun dari sekarang, akan menjadi negara terbesar nomor empat di dunia secara ekonomi. Jelaslah itu peristiwa besar buat kita.
Namun tak hanya Indonesia, tapi juga Asia. Tahun 2045 itu pun akan terjadi pergeseran gravitasi ekonomi dunia, berpindah dari dunia barat ke Asia.
Saat itu, kekuatan ekonomi dunia nomor satu adalah Cina. Nomor dua: India. ketiga Amerika Serikat. Nomor empat: Indonesia. Tiga dari empat negara terbesar secara ekonomi itu ada di Asia.
Perubahan pusat ekonomi dunia dalam sejarah hanya terjadi sekali per ratusan tahun.
Saatnya pula kita mensinergikan kekuatan menyambut hal itu. Kepentingan dan visi besar ini selayaknya mengalahkan berbagai perselisihan kita yang jauh lebih kecil.
Inilah alasan mengapa setelah putusan MK, sebaiknya dan secepatnya kita move on, demikian Denny JA.
Artikel Terkait
Bos Jalan Tol layak Temani Ridwan Kamil di Pilgub Jabar 2024, Mulyadi: Siap Terima Mandat Gerindra
Korban Terseret Ombak dan Hilang di Pantai Cemara Cidaun Cianjur Berhasil Ditemukan dalam Keadaan Meninggal
Keanggotaan Penuh Palestina di PBB
Begini ...!!! Tujuh Cara Menghidari Pembegalan di Malam Hari
Bharada Richard Eliezer Pindah Agama
Selamat Hari Kartini: Menggugat Makna Cantik
Dialektika Nasab hingga Terjawab
Bukti adanya Intervensi Jokowi tidak Beralasan, MK Tolak Seluruh Gugatan Sengketa Pilpres yang Diajukan Anies-Muhaimin
Kayla, Peserta Tes PASKIBRAKA Asal Sukabumi Meninggal Dunia Usai Lari 7 Putaran
Uedan, Lima Oknum Polisi Ditresnarkoba Diduga Konsumsi Shabu, Ya Diciduk Deh !