Spirit Persatuan dari Group WA

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 29 Maret 2024 | 21:07 WIB
Ilustrasi WA GB (Ist)
Ilustrasi WA GB (Ist)

Oleh: Hamdan Juhannis (Rektor UIN Alauddin)

Kali ini saya menerima "gangguan" dari seorang aktifis ulama perempuan, Nyai Badriyah Fayumi, untuk mencermati lebih jauh satu tradisi masyarakat Indonesia yang bisa disebut sebagai modal sosial, "modal ngumpul," "makan gak makan asal kumpul."

Namun Nyai Badriah ingin melihatnya dari perspektif yang lebih positif. Karena menurutnya model kumpul masyarakat kita justeru bisa menjadi penguat integrasi bangsa.

Nyai Badriah menunjuk apa yang dicontohkan Rasulullah dengan pertautan kaum Muhajirin dan Anshar yang kunci bagi "Negara Madinah". Mereka datang dan bertemu dengan ciri dan karakter mereka, namun mereka melebur di bawah panji Islam.

Yang terjadi pada prakteknya, tidak ada lagi perbedaan antara pendatang dan penduduk asli, termasuk dalam mempersepsi tingkat otoritas keberagamaan mereka, meskipun pada realitasnya kaum muhajirin yang lebih dahulu mengenal seluk-beluk Islam.

Demikian pula dengan otoritas kedaerahan, kaum Anshar secara berproses dengan spirit inklusi dari ajaran Islam, tidak lagi mempersepi kaum muhajirin sebagai pendatang yang dibatasi hak-hak kewargaannya.

Apa yang terjadi bagi masyarakat kita sebenarnya model pertautannya bisa mengambil spirit dari persaudaraan kaum Muhajirin dan Anshar. Salah satu yang menarik dari Nyai Badriyah adalah model silaturrahmi dengan Group WhatsApp (WA).

Sebuah group WA dibentuk oleh kesadaran bersama yang memiliki latar belakang kesamaan: asal sekolah, daerah, instansi, angkatan pelatihan, anggota jamaah masjid, tahun berhaji, atau kesamaan hobby.

Ternyata di group WA itu, tidak ubahnya pertemuan yang tampaknya ada kesamaan, tapi masing-masing membawa perbedaan: latar belakang pendidikan, profesi, suku, atau kecenderungan politik. Spirit yang bisa diambil dari perkumpulan model maya ini adalah motivasi untuk menjaga integrasi anggota.

Di dalam group itu diajarkan untuk mejaga soliditas dengan tidak mengangkat issue yang sensitif dan bias bagi anggota group yang lain, supaya tidak adanya anggota yang baper, berefek pada munculnya huru-hara group yang bisa menyebabkan tidak aktifnya beberapa anggota bahkan sampai keluar group.

Model group WA sebenarnya duplikasi dari kecenderungan masyarakat kita untuk berkumpul, tetapi itu terwujud dalam bentuk perkumpulan maya, seiring dengan arus globalisasi.

Yang menarik adalah peluang mengkapitalisasi keberadaan perkumpulan baik di dunia nyata maupun di dunia maya untuk saling memberdayakan. Bahasa Nyai Badriah bukan hanya dipakai untuk membantu anggota group yang "jatuh" tapi juga saling mendorong untuk "naik". Bahkan bisa dipakai menguatkan integrasi dalam kehidupan berbangsa.

Betul, saya menduga kuatnya ketahanan Bangsa tidak terlepas dari budaya masyarakat kita untuk selalu berkumpul, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Psikologi orang suka berkumpul pasti menyukai soliditas.

Psikologi orang suka berorganisasi pastinya memiliki tingkat kepekaan, solidaritas. Psikologi orang suka berkumpul pasti dibentuk oleh tradisi meyikapi keragaman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X