Menyimak Perang Perang Pecah Lagi Di Gaza, Lewat Antologi Kemanusiaan Palestina Satupena

photo author
Abdul Qodir Majid, Journal Nusantara
- Kamis, 4 Januari 2024 | 20:11 WIB
Antologi Kemanusiaan Palestina Satupena (Abdul Qodir Majid)
Antologi Kemanusiaan Palestina Satupena (Abdul Qodir Majid)

Buku antologi kemanusiaan yang dieditori Akmal Nasery Basral diterbitkan Satupena ini, sungguh menarik dan relevan untuk menjadi perhatian semua pihak, termasuk mendiskusikannya untuk memberikan jalan keluar dari tragedi yang direkayasa oleh manusia jahat yang tidak sepatutnya terjadi di muka bumi. Minimal, dalam kesepakatan luhur bangsa Indonesia seperti yang termuat dalam Mukadimah UUD 1945 dapat diwujudkan lebih nyata dalam bentuk solidaritas kemanusiaan yang adil san beradab, sesuai dengan sila Pancasila yang menjadi prinsip dasar kehidupan bangsa Indonesia.

Kumpulan karya anak bangsa Indonesia yang terhimpun dalam antologi sastra kemanusiaan ini sungguh mengusik rasa kemanusiaan seperti 30 Jam Dalam Runtuhan yang ditulis Isbedy Stiawan SZ (hal. 50), Surga di Tanah Terjarah, Mang Ridwan (hal. 60), dan Surat Dari Gaza yang ditulis Prijono Tjiptoherijanto, sungguh sangat menyentuh hati.

Baca Juga: Pergantian Tahun dan Pergantian Presiden

Bahkan ada Roman Maryam dan Abu Fattah, karya Pipiet Senja, penulis Cerita Pendek yang cukup produktif dsn konsisten menekuni profesinya sebagai penulis cerita. Sedangkan tulisan yang lebih serius semacam artikel diulas oleh Ahmadie Thaha dalam bentuk Sepuluh Mitos Tentang Israel. Ada juga ulasan Aprinus Salam; Cara Pandang Melihat Melihat Konflik Palestina.

Yang tidak kalah menarik, Mengapa Kita Harus Bersama Palestina, papar Budi Utomo (hL 185 - 188) hingga Konflik Abadi Israel-Palestina ( hal 193-199) yang dipaparkan oleh penulis senior Gunoto Saparie dari Semarang, Jawa Tengah.

Bahkan ikut pula Nasir Tamara yang cukup lama menghilang dari peredaran publik dengan ulasannya yang tajam tentang Perang Tanpa Akhir (hal 205-209). Sedangkan Dr. Ir. Satrio Arismunandar yang juga mantan wartawan senior spesialis Timur Tengah justru menggambarkan Masa Depan Jalur Gaza secara optimis dan sungguh sangat meyakinkan masa depan yang bisa dibangun dan kembali ditata secara lebih baik.***

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Tips Bahagia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Abdul Qodir Majid

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB

Menenun Kebangkitan Adab

Rabu, 20 Mei 2026 | 18:20 WIB
X