Sepuluh Prinsip Kepemimpinan Efektif

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 4 Januari 2024 | 04:54 WIB

Sabar itu adalah “a state of mentality” (keadaan mental) yang membaja di hadapan tantangan dan/atau sebaliknya godaan. Pemimpin yang sabar tidak mudah patah semangat karena tantangan yang ada. Tidak mudah emosi atau marah karena kritikan. Tapi juga tidak mudah terjatuh ke dalam jebakan godaan-godaan yang ada.

Ketiga, “وكانوا باياتنا يوقنون” (dan mereka yakin dengan ayatKu/tanda-tanda kekuasanKu).

Keyakinan itu menghasilkan ketetapan dan soliditas hati. Kekuatan hati itulah yang melahirkan “self confidence” atau “self esteem” (percaya diri) yang tinggi. Pemimpin akan menghadapi ujian ragam permasalahan, baik dalam negeri maupun di dunia luar. Di sinilah seorang pemimpin harus memiliki ketetapan hati (keyakinan) untuk mengambil keputusan terhadap permasalahan-permasalahan yang ada. Jika tidak maka yang terjadi adalah ketidak pastian dalam urusan-urusan penting kepemimpinan itu.

Pemimpin yang memiliki keyakinan juga adalah pemimpin yang tidak mudah diintimidasi oleh siapapun dan oleh keadaan apapun. Kita sadar bahwa persaingan global sangat deras. Kerap kali yang kuat semena-mena menekan dan mengintimidasi yang dianggap lemah. Di sinilah seorang pemimpin yang punya “keyakinan” (self esteem) akan tegar menghadapi semua tekanan.

Sebaliknya dengan keyakinan itu pula dia tidak akan mengimitasi siapapun, bahkan yang mengeritknya. Lawan politik sekalipun justeru akan dianggap partner setajam apapun perbedaan yang ada. Wewenang yang dimilikinya bukan kekuasaan yang menjadi jalan kesemena-menaan, baik secara halus apalagi kasar.

Merujuk kepada sepuluh prinsip kepemimpin efektif tadi yang tersimpulkan secara gamblang dalam ayat Al-Quran ini, tentu implikasi teknis dan praktisnya ada pada wawasan yang luas (broaden mindset), intergritas yang tinggi (punya Karakter dan etika) serta kapasitas yang mumpuni, termasuk inovatif, kreatif serta memiliki kemampuan komunikasi yang tinggi.

Di tengah memanasnya temperatur politik saat ini, diperlukan kemampuan untuk melakukan rasionalisasi pilihan, berpikir matang, jauh dari tendensi kepentingan sempit dan sesaat. Dan yang terpenting tentunya “istafti qalbak” (tanya hatimu). Karena hati nurani takkan bisa dibohongi.

NYC Subway, 2 Januari 2024

(Ringkasan tulisan ini pernah saya sampaikan di bulan Agustus lalu).

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Lima Problema Mendasar Dunia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X