Piagam Madinah dan Penghianatan Kaum Yahudi: Asal-Usul Teori Konspirasi

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 15 Desember 2023 | 08:17 WIB

Mengapa para Rabi Yahudi berkumpul di Madinah dan menunggu saat Nabi Hijrah?

Jawabannya, karena momen paling penting dalam sejarah Yahudi akan datang. Para Rabi terbaik Yahudi ini bisa mengenali bahwa orang yang akan datang ke Madinah ini adalah seorang Nabi. Demikian pentingnya momen itu, sehingga Allah dan para penduduk langit menantikan apa yang akan terjadi.

Hal pertama yang dilakukan Nabi SAW setelah tiba di Madinah, adalah menghadap Yerusalem untuk melaksanakan shalat.

Ketika shalat di Madinah menghadap Yerusalem, berarti Nabi membelakangi Ka'bah di Mekah, yang sampai saat itu Allah masih menentukan Yerusalem sebagai kiblat.

Ketika masih berada di Mekkah, Nabi SAW selalu melaksanakan shalat di salah satu sudut Ka'bah, sehingga bisa menghadap ke Ka'bah dan Yerusalem sekaligus.

Orang Arab ketika berada di mana pun mereka akan beribadah menghadap Ka'bah. Nabi Muhammad SAW adalah orang Arab. Tapi ketika shalat di Madinah, beliau tidak menghadap Ka'bah, malah membelakanginya.

Nabi SAW juga berpuasa pada waktu-waktu mereka berpuasa, dan dengan cara puasa sebagaimana mereka berpuasa.

Dari situ para Rabi semakin yakin bahwa orang ini pastilah seorang Nabi. Dia menyembah Tuhan yang sama dengan mereka, dan beragama dengan agama yang sama dengan mereka.

Lalu mereka memutuskan untuk mengujinya, dengan membawa dua orang yang mengaku telah berzina untuk bertemu dengan Nabi SAW.

"Hai Muhammad, jika engkau utusan Tuhan, engkau yang memutuskan perkara ini."

Mereka bermaksud memasang jebakan. Tapi karena Nabi SAW, dengan penglihatan intuisinya, dapat mengenali jebakan itu, maka jebakan itu malah berbalik menjadi bumerang buat mereka.

Nabi SAW kemudian bertanya kepada mereka: "Hukuman apa yang akan kalian jatuhkan kepada dua orang pezina ini?"

Mereka menjawab: "Kami akan membuat mukanya menjadi hitam, kami akan merajamnya."

(Rajam = hukuman bagi pezina, dilempari batu sampai meninggal).

Lalu Nabi SAW bertanya lagi: "Apakah hukuman rajam itu ada dalam kitab suci kalian?" Mereka menjawab: "Ya."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X