Oleh: Saiful Chaniago
Berdasarkan data badan pusat statistik (BPS) yang dirilis pada Maret 2023, bahwa jumlah penduduk miskin sebesar 25,90 juta orang. Jumlah yang demikian menurut kami, tentunya jauh dari faktanya dan tidak mewakili seluruh rakyat Indonesia yang sedang berjuang dalam gejolak kemiskinan yang mencekam. Fakta-fakta kemiskinan, kerap kita jumpai dan saksikan secara langsung dalam setiap kesempatan pada semua wilayah seluruh Indonesia.
Baca Juga: Perang Asimetrik dan Bioterorisme Harus Dihadapi Bersama Rakyat
Artinya, jumlah kemiskinan bisa juga diasumsikan lebih besar dari angka BPS sebagaimana tertulis diatas. Gejolak kemiskinan yang dihadapi oleh rakyat Indonesia, seolah-olah mereka tidak berada pada suatu negara berdaulat yang notabenenya memiliki kemandirian kepemimpinan pemerintahan terukur terhadap kepentingan kesejahteraan sebagimana keniscayaan konstitusional dalam bernegara di Indonesia.
Indonesia, tentunya memiliki suatu peraturan yang dinamakan undang-undang dasar negara Republik Indonesia tahun 1945, suatu peraturan yang mewajibkan negara lewat kepemimpinan pemerintahan guna bertanggungjawab penuh terhadap kepentingan kehidupan seluruh rakyatnya.
Dalam domain peraturan yang sedemikian jelas dan tegas terhadap nilai tanggungjawab serta pertanggungjawaban, seharusnya pemerintah Indonesia mampu memastikan keberpihakannya secara maksimal dan optimal untuk kemudian memastikan kebutuhan kesejahteraan rakyatnya dengan sebaik-baiknya.
Fakta Kemiskinan
Pemuda ditemukan gantung diri di pohon mangga (Sidoarjo,29/11/2023), Wanita bunuh diri melompat dari lantai tujuh belas apartemen treepark serpong, Bocah 7 tahun di Malang disiksa karena ambil makanan tanpa ijin (13/10/2023), Amran Pulungan (13) penderita gizi buruk di Kabupaten Padang Lawas (14/11/2023), Pencuri kambing tertangkap di Depok (29/11/2023), ART pencuri uang majikan ditangkap di Surabaya (29/11/2023), Pembunuh sepupu lansia di Babelan ditangkap (27/11/2023), Hutang Indonesia Rp7.879,07 triliun per 31 Maret 2023, Indonesia sebagai negara terkorup ke-5 di Asia Tenggara, berdasarkan data Susenas yang diolah Bappenas, pada tahun 2022 anak usia sekolah (7-18 tahun) yang tidak bersekolah mencapai 4.087.288 anak.
Demikianlah sebagian kecil fakta-fakta kemiskinan dari banyaknya permasalahan kemiskinan yang dihadapi oleh sebagian besar rakyat Indonesia.
Baca Juga: KPK Jalin Kerjasama dengan Lembaga Anti Korupsi se-ASEAN
Kondisi kehidupan masyarakat Indonesia sebagaimana diatas, menurut kami 'bisa juga diistilahkan dengan sebutan 'Lingkaran Syetan' yakni suatu masalah yang tidak diketahui seperti apa solusinya oleh kepemimpinan Indonesia saat ini, kepemimpinan Joko Widodo sebagai Presiden Indonesia saat ini.
Kondisi yang demikian juga, sejatinya merupakan suatu masalah terbesar dan terberat yang harus segera diikhtiarkan solusi terbaiknya oleh kepemimpinan terbaik.
Kepemimpinan terbaik, tentunya menurut kami adalah mereka yang ikhlas terhadap kepentingan kemaslahatan rakyat seluruh Indonesia, selain mereka juga memiliki ilmu pengetahuan yang optimal dalam memastikan suatu upaya sistematis yang terukur berdasarkan kebutuhan kesejahteraan rakyat, agar mampu mewujudkan keadilan dan kemakmuran kepada seluruh rakyat Indonesia.
Dengan demikian, dalam memastikan perubahan Indonesia kearah sebaik-baiknya demi mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur, maka ikhtiarnya adalah momentum pemilihan umum tahun 2024 tentunya harus dijadikan sebagai media strategis untuk kemudian dipertegas seperti apa kepemimpinan terbaik.
Artikel Terkait
Hadi Sutrisno, Kopi Satukan Negeri
Rustam Efendi Berharap Petani Kopi Cianjur Mendapat Perhatian Khusus dari Pemerintah Daerah
Wijaya Kusuma Berharap Hari Kopi Internasional Bisa Tingkatkan Nilai Jual Kopi Asal Cianjur
KPK Jalin Kerjasama dengan Lembaga Anti Korupsi se-ASEAN
Wujudkan Pemilu Sehat, RBUC dan LBH Cianjur Gelar Diskusi Publik Mengawal Proses Pelaksanaan Pemilu 2024
Hadi Sutrisno Berharap Dalam Pileg 2024, Rakyat Jangan Asal Pilih dan Paham Rekam Jejak Caleg
Firman Mulyadi Ungkap Kelebihan Wakil Putra Daerah di Parlemen Senayan
Firman Mulyadi Anak Muda Cianjur Menuju Gedung Senayan
Pengawasan Partisipatif Akan Melahirkan Pemilih Cerdas (Bag1)
Setelah Menggedor Warga Masyarakat Jakarta, Petisi 100 Terus Menggedor Yogyakarta