Oleh : Jacob Ereste
Memadankan antara Rama Wijaya dengan Rahwana dalam sanepo Sri Eko Sriyanto Galgendu tentang sosok Joko Widodo yang cukup dia kenal sebelum menjabat Wali Kota Solo, dimana masing-masing mereka berasal bahkan bertetangga kampung di Nusukan, Solo sungguh memiliki kesan tersendiri.
Rama Wijaya adalah seorang raja yang terkenal di India pada jaman Tratayuga. Sebagai keturunan dinasty Surya atau lebih populer disebut dinasty Suryawangsa dari kerajaan Kosala yang berada di Ibukota Ayodya.
Baca Juga: 8 Manfaat Buah Naga
Dalsm.krpercayaan umat Hindu, Rama Wijaya adalah jelmaan awatara Dewa Wisnu yang ke tujuh turun di bumi. Dalam versi kisah Ramayana, tokoh ini sangat mulia dan dihormati karena sifat dan perangainya yang baik dan terpuji.
Setidaknya, tak suka berbohong, enggan berjanji palsu. Tidak pula munafik, apalagi sampai khianat.
Berbeda dengan Rahwana yang cukup dominan kisahnya dalam mitologi Hindu, adalah raja yang tidak cuma bertubuh raksasa, tapi juga watak dan perangainya sesuai dengan kepalanya yang berjumlah sepuluh. Jadi bisa segera dibayangkan, seorang penguasa seperti Rahwana ini, minimal pasti memiliki hasrat dan keinginan lebih dari sepuluh model. Termasuk birahi untuk melanggengkan kekuasaannya melalui dinasty keluarga.
Baca Juga: Ditengah Moratorium, Apakah Peresmian Titik Nol Pemekaran Cianjur Hanya Ngabebenjokeun Warga Cisel?
Sebagai penguasa Kerajaan Alengka, juga menempati posisi antagonis. Aturan yang sudah baku dan telah menjadi kesepakatan umum bisa diubah seketika itu juga sekehendak hatinya.
Prosesi Jumenengan pun, dia atur dengan mutlak, seperti yang dia sendiri harapkan, tanpa perlu musyawarah dan mufakat dengan pihak manapun, tidak kecuali bagi mereka yang kompeten sekalipun.
Cerita asal usul Rama Wijaya merupakan putra sulung dari Resi Wisrawa dan Sukesi. Tentu yang menarik, sanepo Sri Eko Sriyanto Galgendu tentang Rama Wijaya dan Rahwana, karena mereka berdua saling bermusuhan.
Jadi adalah semacam konflik dalam penyanderaan yang bermotif politik dan berlatar belakang sengketa rebutan perempuan, bukan konsesi lahan yang baru marak pada waktu belakangan ini.
Baca Juga: Anies Baswedan Tanggapi Hasil Survei yang Selalu Tempatkan Dirinya di Urutan Bawah
Alkisah upaya penyelamatan dari hasrat menguasai wanita cantik yang bernama Sita ini, lebih seru dari upaya rakyat mempertahankan lahan dan tempat tinggalnya yang hendak digusur atas perintah orang yang mempunyai banyak uang.
Artikel Terkait
Akibat Lama Duduk dan Males Gerak
Kenapa Harus Peduli Palestina
Shilaturahmi Ustadz Ciharashas (SUCI) Gelar Peringatan Hari Santri Nasional
Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Perusahaan Pembiayaan (Leasing) Dalam Melakukan Penagihan dan Penarikan
Kanker Usus: Bahaya yang Harus Diwaspadai
Keuntungan Usaha (Margin) Dari Langit
PB IDI Mengingatkan Proses Pemeriksaan Kesehatan Capres Cawapres harus Independen dan Imparsial
Anies Baswedan Tanggapi Hasil Survei yang Selalu Tempatkan Dirinya di Urutan Bawah
Ditengah Moratorium, Apakah Peresmian Titik Nol Pemekaran Cianjur Hanya "Ngabebenjokeun" Warga Cisel?
8 Manfaat Buah Naga