nasional

Palestina Dukung Kemerdekaan Indonesia?

Kamis, 12 Maret 2026 | 08:25 WIB
Screenshot

JOURNALNUSANTARA.COM - Saat Zain Hassan menjadi penyebar informasi kemerdekaan Indonesia di Timur Tengah (dia sendiri diaspora Indonesia yang tinggal di Kairo), ada satu masalah yang sering ia hadapi setiap kali membicarakan Indonesia kepada intelektual muslim:

"Memangnya Sukarno Islam?"

Bersama rekan-rekannya, pasca proklamasi dikumandangkan Sukarno-Hatta, tidak pernah terbersit permasalahan seperti itu akan muncul.

"Bagaimana meraih simpati warga Timur Tengah yang mayoritas muslim, jika masalah seperti ini justru jadi duri yang tidak bisa dipecahkan?" begitu batin Zain Hassan.

Ini cerita unik yang Zain Hassan ceritakan sendiri.

Singkatnya, ia teringat bahwa orang Indonesia kerap memakai nama Kanjeng Nabi sebagai nama anak mereka. Jika bukan "Muhammad", biasanya "Ahmad".

"Bagaimana kalau kita sebut saja Sukarno itu bernama Muhammad Sukarno?" salah seorang kolega memberi saran.

"Jangan. Nama 'Muhammad' sudah diambil Bung Hatta." kata Zain Hassan.

"Yaudah, kita panggil saja Ahmad Sukarno."

Akhirnya, di publik Timur Tengah waktu itu, Sukarno (yang kecilnya bernama Kusno), dipanggil dengan Ahmad Sukarno. Sementara Drs. Hatta dikenal dengan Muhammad Hatta.

Selama dua tahun setelah kemerdekaan Indonesia, Zain Hassan berusaha sekuat mungkin mencari pengakuan dari Dunia Islam, dan tentu saja Liga Arab adalah tujuan utamanya.

Di tahun pertama, ia sangat berhasil. Tapi ia memerlukan "bounding" dari proklamator. Awalnya, Sukarno diusulkan untuk datang ke Mesir. Nahas, agresi militer membuatnya gagal berangkat dan digantikan Bung Hatta di tahun kedua, bersama AR Baswedan (kakek Mas Anies Baswedan).

Di sebelah kanan Bung Hatta adalah Muhammad Amin. Orang-orang menulis "Husaini" tanpa "Al" karena dianggap nama. Padahal, lengkapnya adalah Sayid Muhammad bin Amin al-Husaini.

Betul, al-Husaini di namanya adalah nisbat untuk keturunan Imam Husain bin Ali.

Halaman:

Tags

Terkini