Journalnusantara.com - Visi besar Indonesia Emas 2045 sebuah cita-cita mulia yang menargetkan negara kita menjadi bangsa maju, berdaulat, adil, dan makmur di usia satu abad kemerdekaan memang memantik semangat.
Namun, mimpi ini bukan perjalanan mulus, melainkan sebuah jalan terjal yang memerlukan strategi jitu dan komitmen lintas generasi. Ancaman paling nyata yang menghadang adalah jebakan pendapatan menengah (Middle Income Trap).
Indonesia harus terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tinggi, di atas 6-7% secara konsisten, didukung oleh inovasi dan peningkatan nilai tambah produk, agar tidak terjebak di level tengah dengan biaya tenaga kerja yang mahal namun teknologi yang tertinggal.
Kunci utama untuk melompat dari jebakan ini adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, dan inilah tantangan kedua yang paling krusial. Kualitas pendidikan, yang tercermin dari hasil survei PISA, masih harus ditingkatkan secara signifikan, terutama dalam literasi dan numerasi.
Ketimpangan akses pendidikan berkualitas antara kota dan daerah terpencil harus segera diatasi, karena jika tidak, bonus demografi yang saat ini kita nikmati bisa berubah menjadi bencana demografi, di mana banyak angkatan kerja produktif tetapi tidak kompeten dan menganggur. Kita juga harus mulai merancang sistem yang kuat untuk menghadapi tantangan aging society atau penuaan penduduk di masa depan.
Di luar masalah ekonomi dan SDM, ada tantangan fundamental terkait tata kelola pemerintahan dan keberlanjutan. Upaya pemberantasan korupsi harus terus diperkuat agar tidak menghambat investasi dan pembangunan yang merata.
Reformasi birokrasi wajib dilakukan secara konsisten. Lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan masa depan; isu perubahan iklim dan keberlanjutan lingkungan harus diintegrasikan dalam semua kebijakan.
Mewujudkan Indonesia Emas 2045 menuntut keselarasan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan kemauan politik yang teguh dari semua pihak untuk melewati rintangan-rintangan struktural ini.