Di antara lembaran sejarah yang kelam,
nurani bangsa dipaksa diam
Bukan bintang yang bercahaya,
tapi dentuman senjata merenggut jiwa
Tangis pun lahir dalam gelap,
bagai peluru menyalak tanpa sebab
Mengalir deras, bukan embun,
melainkan luka yang tak terampun
Tumpah darah bukanlah persembahan,
melainkan pengkhianatan terhadap kemanusiaan
Air mata bangsa menjadi saksi,
bahwa kekejaman menutup nalar nurani
Jika sejarah menunjuk satu arah,
mengingatkan kita pada luka yang parah
Jika jiwa berpaut pada kebenaran,
maka tragedi menjadi cermin peradaban
Ya Tuhan,
ajari kami menafsir tragedi dengan kejernihan,
agar dendam tak mengalir pada generasi kemudian
ajari kami menjaga persatuan dengan keteguhan,
agar sejarah kelam tak lagi menemukan jalan
Ketika bangsa ini harus memilih,
bara pengkhianatan atau cahaya persaudaraan,
bimbinglah kami menuju kedamaian,
agar bangsa ini tetap bernafas dalam persatuan
Malang, 30 September 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Dua Sisi Mata Uang, Risiko dan Bahaya di Balik Olahraga
Mutiara Pagi: Mutiara Cintaku (Bagian 1980)
Kisah Partai Ka’bah: Satu Muktamar, Dua Aklamasi
Mutiara Pagi: Bunga Kasih di Pelaminan (Bagian 1981)
Tiga Periode Beruntun, Kades Arusman di Pematang Cengal Buktikan Loyalitas Berkat Terbuka pada Kritik
Delegasi Pesantren Al Masykuriyyah di Uzbekistan
Limbah Reklamasi SKK Migas di Desa Bubun Berdampak pada Nelayan dan Masyarakat Sekitar, 3 Perusahaan Diminta Bertanggung Jawab
Pelayanan Ruang Publik Desa Pantai Cermin, Kecamatan Tanjung Pura, Langkat Sangat Memuaskan Warga Desa
Mutiara Pagi: Ketika Hidup Harus Memilih (Bagian 1982)
5 Siswa MAN 2 Cianjur Melaju ke Tingkat Provinsi dalam Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2025