Journalnusantara.com - KH Abdullah bin Nuh dikenal sebagai ulama besar yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau menekankan pentingnya menjaga persatuan umat, mengingat perbedaan pendapat seharusnya tidak memutus tali persaudaraan.
Menurutnya, semua Muslim memiliki Tuhan, Rasul, dan kiblat yang sama, sehingga persatuan adalah kunci kekuatan.
Dalam beragama, KH Abdullah bin Nuh mengajarkan keseimbangan antara ilmu fiqih dan tasawuf. Pemahaman hukum Islam harus dibarengi dengan pembersihan hati (tazkiyah al-nafs) dan akhlak yang mulia.
Beliau meneladani Imam al-Ghazali dengan rutin bermuhasabah, menjadikan ibadah bukan sekadar kebiasaan, tetapi sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Ia juga mendorong penyebaran ilmu melalui tulisan dan ucapan. Media, buku, dan pengajaran menjadi sarana mengajak masyarakat kepada kebaikan, bahkan menerjemahkan ilmu agar lebih mudah dipahami oleh semua kalangan.
Di bidang pendidikan, KH Abdullah bin Nuh percaya bahwa perubahan dimulai dari lingkungan terdekat. Ia membangun pendidikan dari keluarga, tetangga, dan masyarakat, serta mendirikan lembaga belajar yang bermanfaat.
Sikap moderat dan inklusif juga menjadi prinsip pentingnya merangkul semua golongan yang mau menuju kebaikan, tanpa sikap keras atau mengucilkan.
Perjuangan beliau tidak berhenti di bidang agama, tetapi juga meluas ke sosial, pendidikan, dan kemerdekaan. Baginya, ilmu adalah modal untuk berjuang, bukan sekadar retorika.
Dengan prinsip-prinsip ini, KH Abdullah bin Nuh meninggalkan teladan bahwa ulama sejati adalah yang memadukan iman, ilmu, amal, dan kepedulian terhadap sesama.