Kita hidup di era di mana nasionalisme kerap dijadikan slogan kosong di panggung politik, namun lupa merawat jejak-jejak yang bisa mempertegas identitas bangsa. Bangunan kolonial dipuja jika berkaitan dengan pariwisata eksotik seperti Lawang Sewu atau Kota Tua Jakarta. Namun jika tidak menguntungkan secara instan, warisan sejarah seperti Malabar dibuang ke jurang kelupaan.
Padahal, revitalisasi Stasiun Radio Malabar bukan hanya tentang romantisme masa lalu, melainkan tentang membangun kesadaran teknologis bangsa. Situs ini bisa menjadi pusat edukasi radio komunikasi, sejarah kolonialisme teknologi, bahkan wisata geopark berbasis sains dan budaya. Dengan anggaran negara triliunan untuk proyek-proyek mercusuar, mengapa situs ini tidak mendapat alokasi signifikan?
Penutup: Suara yang Dirampas, Warisan yang Dipasung
Malabar bukan hanya milik Belanda. Ia adalah bagian dari sejarah kebangsaan Indonesia, dari keterhubungan kita dengan dunia sebelum republik ini lahir. Membiarkan Stasiun Radio Malabar lapuk tanpa makna adalah bentuk konkret pengkhianatan terhadap ilmu pengetahuan, sejarah, dan kehormatan nasional.
Sudah saatnya pemerintah, akademisi, dan masyarakat bangkit dari sikap beku. Jangan sampai Malabar menjadi simbol betapa kita lebih fasih membangun masa depan yang hampa identitas, daripada merawat masa lalu yang bisa menginspirasi generasi baru.
Jika negeri ini terus-menerus melupakan batu-batu fondasi peradabannya sendiri, maka jangan kaget jika yang tersisa hanyalah reruntuhan: fisik dan mental.