Itulah momen pertemuan kami terakhir dengan ekonom ternama itu.
Faisal Basri tiba di Medan pada 29 Agustus 2024 untuk melakukan peninjauan ke wilayah Sidikalang, Kabupaten Dairi.
Ada aktivitas tambang yang ingin dipantaunya di kawasan itu.
Selama tiga tahun terakhir Faisal mengaku lebih aktif bergelut dalam isu ekonomi dan lingkungan.
Perjalanan ke Dairi itu yang sempat ia keluhkan kepada kami.
“Dingin sekali di sana. Sepanjang jalan kaca mobil yang kami tumpangi dibuka.
Tidak ada AC sama sekali. Sungguh tidak nyaman bagi saya,” ujarnya. Sepulang dari Dairi itu, kondisi kesehatannya mulai menurun.
Ketika kami berpisah di stasion kereta, Irmansyah sempat mengingatkan Faisal segera memeriksakan diri ke dokter. Faisal menganggap setuju.
Jika kondisinya normal, Faisal berjanji segera kembali ke Medan untuk menghadiri beberapa pertemuan di kampus.
“Pokoknya kalian tentukan saja tanggalnya lebih awal, saya siap datang. Saya akan paparkan data-data kebobrokan ekonomi Indonesia di masa Pemerintahan Jokowi kepada para mahasiswa di Medan,” ujarnya.
Kami memang sudah berencana akan membawa Faisal Basri memberikan kuliah umum di 5 kampus di Sumut.
Kami sangat yakin akan ada banyak sekali informasi menarik yang bisa ia sampaikan, termasuk soal penyelundupan nikel yang melibatkan menantu Jokowi, Bobby Nasution.
Namun rencana itu akhirnya terkubur setelah Kamis pagi (5/9/2024) aku mendengat kabar kalau Bang Faisal Basri telah kembali ke pangkuan Allah Subhana Wata’alla di Rumah Sakit Mayapada, Kuningan, Jakarta.
Innalillahi wa innalilahi rajiun.
Telah berpulang satu orang cerdas, jujur dan baik hati di negeri ini. Faisal dikenal sebagai ekonom yang idealis dan terpercaya
Semua analisisinya selalu dilengkapi dengan data.
Ia merupakan dosen ekonomi yang cukup disegani di Universitas Indonesia, sekaligus salah satu pendiri Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), lembaga riset independen dan otonom yang berdiri pada Agustus 1995 di Jakarta.