NU-Muhammadiyah Sepakat Tolak Politik Identitas Jelang Pemilu 2024

photo author
Abdul Qodir Majid, Journal Nusantara
- Jumat, 26 Mei 2023 | 15:16 WIB
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (keempat kiri) berjabat tangan dengan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (ketiga kanan) saat bersilaturahim di Kantor Pusat PBNU, Jakarta, Kamis (25/5/23) (ANTARA/Sean Filo Muhamad)
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (keempat kiri) berjabat tangan dengan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (ketiga kanan) saat bersilaturahim di Kantor Pusat PBNU, Jakarta, Kamis (25/5/23) (ANTARA/Sean Filo Muhamad)

JournalNusantara.com - Menjelang pemilihan umum (Pemilu) 2024 para calon kontestan diminta untuk menunjukkan kepemimpinan moral dengan cara menonjolkan gagasan ketimbang menunjukkan cara berpolitik yang dapat memecah belah umat.

Ungkapan tersebut disampaikan oleh dua organisasi besar Islam, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Karena hal itu menjadi salah satu kesepakatan dalam pertemuan antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di kantor PBNU, Jakarta, kemarin (25/5).

Baca Juga: Makam Cikundul, Wisata Religi di Cikalongkulon Cianjur

Seperti dilansir JawaPos.com, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berharap, selain jujur dan adil, elite politik juga harus memperlihatkan kepemimpinan moral dengan visi kebangsaan yang kokoh.

Sehingga kontestasi tidak bersifat politik kekuasaan semata.

’’Visi kebangsaan apa yang mau dibawa, yang menunjukkan berangkat dari fondasi yang diletakkan oleh para pendiri bangsa,’’ ujarnya.

Dengan kepemimpinan moral, lanjut dia, kontestasi diharapkan lebih berkualitas. Ujungnya, pihak-pihak yang terpilih mencerminkan sosok yang tahu masalah, paham baik-buruk dalam berpolitik.

Baca Juga: Pertengkaran Memuncak, Suami Tumpahkan Bubuk Cabe ke Mata Istri Dibalas Remasan Alat Vital oleh Sang Istri

’’Sehingga tidak bersifat siapa dapat apa dan bagaimana caranya,’’ ucapnya

Cara berbeda pandang juga diperlukan agar persoalan bangsa bisa diselesaikan. Haedar mengakui, masih banyak problem yang membelenggu masyarakat.Tentunya dalam masalah ekonomi.

’’Kontestasi politik ke depan agar tidak sekadar bagi-bagi kekuasaan. Tapi, yang paling penting, Indonesia dengan rakyatnya yang 271 juta ini mau diapakan agar lebih sejahtera,’’ terangnya.

Sebagai kekuatan keagamaan, NU dan Muhammadiyah punya panggilan moral untuk mendorong hal tersebut.

Baca Juga: Aksi Balap Liar di Gading Serpong Kembali Telan Korban

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Abdul Qodir Majid

Sumber: jawapos.com

Tags

Rekomendasi

Terkini

X