JOURNALNUSANTARA.COM, JAKARTA - Menarik mengamati Aksi 27 Agustus dari sisi lain. Dalam aksi tersebut ada satu sosok yang bisa dianggap sentral. Tampangnya biasa saja, representasi orang dari daerah (Pati), bukan Sultan dari pusat kota yang gemerlap dengan berbagai asesoris mahal bak pengacara kondang Hotman Paris.
Dia juga bukan seorang akademisi ataupun mahasiswa yang akan tampak gagah dengan jaket almamaternya. Terlebih dia bukan selebritis yang mestinya bisa jauh lebih mudah menarik simpatik orang-orang peserta deno. Lalu bagaimana orang yang biasa-biasa saja bisa menjadi sosok sentral dalam aksi yang tengah menjadi trending sejagat nusantara, bahkan menjadi liputan dunia.
Orang sering memanggilnya Botok atau Mas Botok. Nama aslinya Supriyono, entah mengapa disapa Botok. Dengan tampang lugunya, Botok hanya bersandangkan kaos perlawanan yang dikreasi sendiri dengan kata-kata nyeleneh. Tidak lupa topi juga selalu hadir menemani penampilannya di depan publik.
Mas Botok tidak hanya muncul saat ini saja. Ia bukan jenis manusia instan dalam dunia gerakan. Ia sudah mucul lama meski sekalanya hanya di tingkat daerah (kabupaten Pati). Paling terakhir Botok bersama Husein berhasil menggalang aksi demo besar di depan kantor Bupati Pati hingga akhirnya Sudewo, sang Bupati dicokok KPK.
Video Botok vis a vis berhadapan langsung dengan Sudewo sempat viral. Ia yang merasa benar mewakili aspirasi rakyat berani melawan penguasa Pati saat itu. Namun berbeda dengan Husein, nama Botok tetap eksis paska aksi Pati. Sementara Husein lambat laun menghilang bahkan kini hanya menjadi bahan dagelan warga net.
Husein diketahui bertemu dengan Sudewo dan mendapatkan "sesuatu" semacam hadiah. Arahnya sudah bisa diduga ke mana. Benar saja, Husein beralih mendukung Bupati Sudewo dan melawan sahabatnya sendiri, Botok. Botok masih tetap seperti semula dan tidak silau meski ia juga ditawari sesuatu oleh Sudewo.
Pada awalnya, warga net sudah banyak yang menyuarakan kata-kata, seperti: "Dari Pati untuk Indonesia," atau, "Diawali dari Pati perlawanan rakyat daerah menyebar." Dan kini, Botok bersama perwakilan warga Pati mulai bergerak ke Ibu Kota Jakarta tempat bersemayamnya Penguasa yang sesungguhnya.
Botok naik level. Namanya semakin kondang dikenal seluruh nusantara. Lalu ada pertanyaan, siapa orang atau tokoh penting di belakang Botok dkk? Mana mungkin mereka bisa bergerak tanpa ada penggeraknya? Agung Wibawanto, seorang pengamat politik asal Yogyakarta menjawab, saat ditemui redaksi via telpon.
"Ya, memang banyak orang kini bertanya-tanya, siapa Mas Botok? Dan siapa yang menggerakkannya? Bagaimana mungkin Botok yang hanya "wong deso" mampu menggalang aksi besar seperti itu? Ya, mohon maaf, orang hanya melihat dari penampilannya yang terkesan "ndeso" dan tidak ada yang spesial sama sekali," terang Agung.
"Bagi saya pribadi, juatru di sini keistimewaan Mas Botok. Di tengah kondisi politik-ekonomi yang carut marut sekarang ini, publik kehilangan trust atau kepercayaan. Terutama kepada pejabat publik, para elite juga aparat. Bangsa ini sedang mengalami krisis kepercayaan. Di saat itu muncul sosok yang biasa-biasa saja tapi berani dan konsisten mewakili aspirasi rakyat," tambah Agung.
Menurut Agung, publik mulai muncul simpati melihat perjuangan Botok, terlebih saat ia mendapat intimidasi dan teror dari negara (rekening bank nya diblokir, akun medsos juga diblokir). Bagi Agung, Botok kini sudah menjadi simbol perlawanan dan magnetnya sangat kuat. Ini bisa dijadikan semacam "test the water".
Agung menambahkan, "Itu menyebabkan banyak tumbuh rasa simpati dan empati mau berdonasi pada kelompok aksi. Intinya, rakyat akan semakin melawan jika aparat terus menekan. Botok menghadapi itu semua hanya berdasar pada keyakinan akan hak konstitusinya yakni: berserikat berkumpul menyampaikan pendapat."
Berdasar keterangan Agung terkait "penggerak", ia mengatakan bisa dari dua arah yakni: dari dalam (nurani) juga bisa dari luar, "Yang saya jelaskan tadi jika memang aksi tergerak dari hati nurani pribadinya Botok sendiri. Mungkinkah digerakkan dari luar? Ya mungkin saja, tapi jujur saya tidak tahu siapa? Coba saja cek siapa pemenang pileg Pati? Kan jaket merah (PDIP)? Hal ini mungkin sesuai dengan yang dituduhkan banyak orang."
Namun demikian, Agung tidak mengatakan penggeraknya adalah PDIP. Ia hanya mengajak publik berpikir: 1. Jika benar, apakah salah? Toh aksi juga tidak bertujuan anarkhis; 2. Jika benar, maka akan aneh dengan tuduhan kaym 58 selama ini yang mengatakan PDIP tidak berani sahkan RUU Peranpasan Aset. Mengapa? Karena isu itu yang diangkat.
Artikel Terkait
Wow... Skandal Asusila Diduga Libatkan Pegawai ASN Pemprov Sumbar Mendadak Viral di Medsos
OTT Rektor Unsoed dan Kotak Pandora Jalur Mandiri: Beranikah KPK Membongkar Kampus Lain?
Diduga Gegara 'Telolet', Rombongan Bus Pariwisata Anyer Alami Laka Beruntun di Tol Tangerang-Merak
Mutiara Pagi: Tak Membalas Kebencian (Bagian 2313)
Healing di Bulan Kemerdekaan Ala Warga Sambilawang
Mutiara Pagi: Buat Apa Menyimpan Benci (Bagian 2314)
Suntikan Modal Rp500 Miliar Holding BUMD Jabar Dipertanyakan
Bekali Siswa Manajemen Keuangan, MA PK Al Hikmah Gelar Edukasi Bersama OJK dan BEI Jabar
Mutiara Pagi: Kerasnya Ucapan (Bagian 2315)