JOURNALNUSANTARA.COM, SUKOHARJO - Healing ternyata tidak harus di sebuah destinasi wisata. Tidak perlu menabung dan mengeluarkan dana banyak. Tidak pula harus menunggu momen libur panjang ataupun long week end. Healing juga bisa dilakukan di lingkungan perumahan dengan dana gotong royong seadanya.
Hal ini sering dilakukan oleh warga RT 01 RW 01 dusun Sambilawang, Demakan, Mojolaban, Sukoharjo. Pada banyak event warga kerap mengadakan acara yang sekaligus juga bisa dijadikan media healing ataupun hiburan agar hidup lebih bahagia dan menggembirakan.
"Acara-acara seperti ini memang dbutuhkan agar hubungan sosial kemasyarakatan bisa lebih cair dan guyup. Itu yang terpenting. Jikapun bisa manfaat buat kesehatan fisik dan mental, itu efeknya dan pasti baik sekali," ujar Purwanto, selaku Ketua RT 01/01 Sambilawang.
Model kumpul warga ini tidak hanya satu-dua kali dan tidak perlu menunggu hari-hari besar nasional, tapi juga pada event-event lain. Pada kesempatan momen bulan kemerdekaan tercatat sudah 3 kali mengadakan acara di tingkat RT, belum lagi untuk tingkat RW.
Di bulan Agustus 2026, warga RT 01/01 sudah mengadakan tirakatan dan lomba-lomba (16/8), gerak jalan dan senam serta sarapan soto bersama (23/8) dan syukuran (24/8). Setiap kegiatan diikuti oleh seluruh warga tanpa kecuali, tua, muda maupun anak-anak.
Di tengah kondisi perekonomian nasional yang tidak menentu ini lalu bagaimana cara penggalangan dana dan mengelolanya, "Dana dari kas RT yang dikumpulkan secara rutin bulanan, juga subsidi silang merupakan bantuan dari warga yang lebih mampu. Intinya gotong royong dan dari warga untuk warga," jelas Purwanto lagi.
Jasmin, salah seorang warga mengaku senang setiap kali megikuti acara kumpul warga, "Hidupkan sesekali perlu hiburan supaya tidak stress. Caranya ya seperti ini, kumpul-kumpul. Kadang di lingkungan saja kadang piknik bersama keluar. Dengan kumpul warga juga bisa tambah saling mengenal," pungkasnya.
Healing di tengah kondisi sekarang ini memang sangat dibutuhkan. Jika orang kota mengenal istilah "me time" maka orang di kampung lebih kepada "our time", tidak sendiri per individu melainkan bersama-sama. Tujuannya selain guyup, menjaga kekompakan juga mental health.
Tidak heran warga kampung terlihat lebih tinggi tingkat toleransinya, karena sudah saling mengenal. Bandingkan dengan kehidupan bermasyarakat di kota-kota besar. Jangankan dengan warga luar, degan warga sendiri saja tidak saling kenal tidak saling menyapa. Jika sudah begitu, yang ada hanya saling curiga.
Artikel Terkait
Mikhaela Agustina Anvie Titirloloby Wakili Indonesia di International Kids of The Year 2026
Nadia Putri Ramadhani Wakili Indonesia di Miss Asia Pacific 2026 Kategori Preteen
Putri Sabila Wakili Indonesia di Miss Asian International 2026
Mutiara Pagi: Mulai dengan Berbagi (Bagian 2311)
Mutiaran Pagi: Setiap Maulid Tiba (Bagian 2312)
UIN Bandung Resmi Buka Program S2 Ilmu Komunikasi, Perkuat Peta Kajian Komunikasi di PTKIN
Wow... Skandal Asusila Diduga Libatkan Pegawai ASN Pemprov Sumbar Mendadak Viral di Medsos
OTT Rektor Unsoed dan Kotak Pandora Jalur Mandiri: Beranikah KPK Membongkar Kampus Lain?
Diduga Gegara 'Telolet', Rombongan Bus Pariwisata Anyer Alami Laka Beruntun di Tol Tangerang-Merak
Mutiara Pagi: Tak Membalas Kebencian (Bagian 2313)