Rubrik Setetes Embun : Belajar Memelihara Hati !

photo author
Ridwan Mubarok, Journal Nusantara
- Rabu, 18 September 2024 | 16:05 WIB
Gambar : Dr. H. Dudy Imanuddin Efendi, M.Ag, Penulis adalah Wakil Dekan I Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN SGD Bandung.
Gambar : Dr. H. Dudy Imanuddin Efendi, M.Ag, Penulis adalah Wakil Dekan I Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN SGD Bandung.

OPINI/ JournalNusantara.com - Kata Jalaludin Rumi, dalam "Fihi Ma Fihi", bahwa cinta dapat mengubah kekasaran menjadi kelembutan, mengubah orang tak berpendirian menjadi teguh berpendirian, mengubah pengecut menjadi pemberani, mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan, dan cinta membawa perubahan-perubahan bagi siang dan malam.

Khalil Gibran, dalam "The Prophet" bahwa hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat serta keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan. Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran. Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta.

Belajarlah untuk memelihara cinta pada pasanganmu. Sebab jika tidak terjaga maka akan patah sayap-sayapnya. Jiwa dan pikirannya akan melayang-layang tak menentu arah karena raouh hatinya.

Baca Juga: Mahasiswa Baru UIII Belum Bisa Masuk Indonesia Karena Terkendala Masalah Visa

Kata Khalil Gibran, sekeping hati menjadi begitu Kuat dan Kokoh saat berselimut cinta dan asa. Mengapa Tuhan menciptakan rasa sayang dan rindu di dalam hati. Mengisi kekosongan di dalamnya. Tanpa cinta akan menyisakan kegelisahan karena sosok seorang kekasih hati.

Cinta akan menghimpun berjuta asa dan menberikan semangat hidup. Tanpa cinta konon akan menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa, menyesakkan dada, dan bahkan tak berdaya melawan gejolak yang menerpa diri karena berharap dari sosok yang dicintainya ternyata hanya sebatas bayangan ilusi.

Menurut Khalil Gibran, bagi orang yang berharap dicintai kadang selalu berbisik penuh luka untuk bisa merendam gejolak hati dan kegamangan raga. Berharap mendapat asa dari orang yang dicintainya sebagai obat rasa sakit yang tak terkendali karena kehilangan harapan.

Bisikannya mengatakan ada seseorang di balik bukit yang tak terlihat, menunggu dengan setia dan selau menghargai apa artinya cinta. Hatinya kadang terjatuh dan terluka. Merobek malam menoreh seribu duka. Menunggu sang kekasih tak kunjung memberikan perubahan harapan dari cintanya. Seperti halnya Khalil Gibtan menyatakan, Kukepakkan sayap-sayap patahku mengikuti hembusan Angin yang berlalu menancapkan rindu di sudut Hati yang beku.

Baca Juga: Pilkada di 38 Daerah hanya Diikuti Pasangan Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Tunggal

Saat harapan dari perasaan cintanya tak terbalas. Hati dan raganya retak, hancur bagai serpihan cermin, berserakan sebelum hilang diterpa angin.Sambil tertunduk lemah, dengan perasaan berat karena terluka memcoba tertatih mengais sisa hati bercampur baur dengan debu.

Kata Gibran, seseorang yang terluka karena harapan dari cintanya tak terbalas maka sayatan bathinnya akan mengatakan: "ingin Kurengkuh dan kugapai kepingan di sudut hati. Akan tetapi hanya bayangan yang kudapat. Dia yang dicintai menghilang saat mentari turun dari peraduannya".

Pun Gibran mengatakan: jika dibiarkan terus berharap tapi tidak berbalas, maka kemungkinan orang yang mencintai akan mengatakan: "tak sanggup ku kepakkkan kembali sayap ini. Ia telah patah, tertusuk duri-duri yang tajam. Aku hanya bisa meratap, meringis, dan mencoba mengapai sebuah pegangan yang tak pasti

#Die-Hening#Sekecil apapun belajar menghidupkan perasaan cinta#Hal itu merupakan usaha agar hati pasangan hidup tidak retak dan sayap-sayapnya tidak patah#

Disarikan dari berbagai sumber.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ridwan Mubarok

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X