(dengan Jenderal Pol. (Pur) Ahmad Dofiri)
Aurah wajahnya seperti hamparan sejarah
tahu rahasia harum negara
namun tidak kehilangan hormat kepada takdir
serta cinta dan kesetiaan pada tanah air
“Bukan hanya warna bendera”, ucapnya
yang harus dijaga dengan doa
tapi keberanian untuk kembali
pada kejujuran yang telah lama pergi
Dengan nada serupa, aku bertanya:
Siapa pemilik tanah air ini, Jenderal?
Dengan penuh wibawa ia berkata:
“Seharusnya semua rakyat Indonesia”
Kemudian senyumnya merekah,
seperti seseorang yang ikhlas melepas dunia
Aku menunduk pasrah
Dengan penuh hormat tanpa berkata-kata
“Mohon izin Jenderal,” kataku lirih
“tiada salah jika sesekali kutitipkan cintaku padamu,
pada tanah air yang bukan hasil dari darah dan keringatku”
Karena di negeri yang kita cintai ini
amarah kadang membara melebihi api
sementara kesalahan masa lalu terasa seperti debu
yang mudah ditiup dari waktu ke waktu
Azan duhur mulai berkumandang
kami berdua hanya saling pandang
“Saya bukan siapa-siapa,” katanya.
“Hanya hamba yang terus belajar setia,
namun jika Tuhan masih meridoi
untuk membela bangsa ini,
semoga dapat membuat tersenyum Ibu Pertiwi
bukan duri yang melukai saudara sendiri.”
Sumenep, 23 November 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Cianjur, Episentrum Tradisi Santri dan Pembangunan Lokal
Mengurai Kompleksitas Bantuan Pemda untuk Pondok Pesantren
Konsekuensi Tragis APBD yang Mengabaikan Sektor Pesantren
Mutiara Pagi: Jeda Kehidupan (Bagian 2034)
Mutiara Pagi: Arema Kehilangan Ibu (Bagian 2035)
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Strategi Efektif Mengatasi Kecanduan Gawai pada Anak (Bagian 14)
Mahasiswa PPL STAI Al-Azhary Cianjur Gelar Seminar Penguatan Karakter Islami di SMAN 1 Karangtengah
BEM PTNU Komitmen Kawal Implementasi KUHAP Baru, Dorong Keadilan Progresif dan Peran Aktif Mahasiswa
Mutiara Pagi: Myze (Bagian 2036)
BEM PTNU Perkuat Jaringan Digital, 12 Portal Berita Baru Siap Diluncurkan Jelang Mukernas