Mutiara Pagi: Elegi Cinta Demokrasi (Bagian 1952)

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 3 September 2025 | 20:42 WIB
Kubah hijau Gedung DPR RI di Senayan, Jakarta. Simbol kedaulatan rakyat dan demokrasi Indonesia. (Foto: MPR RI)
Kubah hijau Gedung DPR RI di Senayan, Jakarta. Simbol kedaulatan rakyat dan demokrasi Indonesia. (Foto: MPR RI)

Saudara-saudara yang kucintai,
izinkan saya menyampaikan sebuah elegi,
sebuah surat cinta,
yang ditulis oleh rakyat biasa,
menggunakan pena dan tinta,
dari air mata rakyat jelata

Gedung DPR:
bukan gedung megah tempat canda tawa,
bukan hanya ruangan berpendingin udara,
bukan sekadar panggung untuk bicara
Melainkan cermin wajah rakyat,
denyut nadi bangsa yang bermartabat,
ada harapan yang dititipkan,
dan janji yang harus ditunaikan

Demokrasi:
bukan sekadar hitungan suara,
atau perebutan kursi semata
Demokrasi adalah cinta,
kasih yang tulus kepada bangsa,
untuk menjaga agar janji tidak dikhianati,
agar kepercayaan tidak terkotori,
oleh nafsu dan kepentingan pribadi

Wakil rakyat yang terhormat!
ingatlah amanat rakyat…
kalian ibarat kekasih yang dipilih,
dengan penuh harapan dan cinta kasih

Maka datanglah dengan niat suci,
bukan sekadar memperkaya diri
Jangan mencari keuntungan sesaat,
apalagi tega berkhianat kepada rakyat

Datanglah seperti seorang kekasih
Dengan membawa cinta sejati
Bukan sekadar bayangan ilusi
dan janji-janji yang tak ditepati

Rakyat:
cinta kalian begitu mulia
yang dtitipkan lewat suara,
yang dititipkan lewat harapan,
meski seringkali terlupakan
Semoga janji yang mereka ucapkan
dapat menjadi kebijakan
yang mendatangkan kemanfaatan

Marilah kita tetap percaya
cinta sejati akan menemukan jalannya
Bahwa DPR bisa menjadi ladang kasih,
bukan panggung untuk berselisih
Janji-janji politik menjadi nyata,
bukan sekadar retorika kosong belaka

Karena membangun negara
bukan dengan janji dan retorika
tapi perlu tindakan nyata
dan kebijakan yang lahir dari nurani,
bukan demi kepentingan pribadi

Saudara-saudaraku yang baik
bayangkanlah jika wakil rakyat baik
menjadi kekasih yang setia,
mendengar dengan tulus,
menjaga amanat sepenuh hati,
dan menumbuhkan harapan tanpa henti
Betapa indah wajah demokrasi kita,
betapa damai kehidupan tanah air kita

Marilah, jaga negeri ini dengan benar
Rakyat, teruslah bersuara tanpa gentar
DPR, jangan hanya sekadar mendengar,
tapi wujudkan dalam bentuk kebijakan,
yang mendatangkan kesejahteraan

Karena cinta yang sejati,
ketika rakyat dan wakilnya selalu sehati,
Saling bergandeng tangan,
bukan menggenggam permusuhan,
Menyatu dalam satu janji,
demi Indonesia yang kita cintai

Malang, 3 September 2025
Salam sehat,

M. Sinal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mutiara Pagi: Kembali pada Diri (Bagian 2274)

Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:20 WIB

Mutiara Pagi: Sembunyikan (Bagian 2273)

Jumat, 17 Juli 2026 | 05:47 WIB

Mutiara Pagi: Ketenangan Batin (Bagian 2272)

Kamis, 16 Juli 2026 | 06:03 WIB

Mutiara Pagi: Berikan Sebagian (Bagian 2270)

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:32 WIB

Mutiara Pagi: Simpan Sebagian (Bagian 2269)

Senin, 13 Juli 2026 | 11:27 WIB

Mutiara Pagi: Perbedaan (Bagian 2268)

Minggu, 12 Juli 2026 | 06:58 WIB

Mutiara Pagi: Doa Saudara (Bagian 2266)

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:37 WIB

Mutiara Pagi: Teruslah Belajar (Bagian 2263)

Selasa, 7 Juli 2026 | 07:44 WIB

Mutiara Pagi: Cahaya Ilmu (Bagian 2261)

Minggu, 5 Juli 2026 | 09:18 WIB

Mutiara Pagi: Hidup adalah Puisi (Bagian 2260)

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:19 WIB

Mutiara Pagi: Kedamaian (Bagian 2259)

Jumat, 3 Juli 2026 | 07:13 WIB

Mutiara Pagi: Kebaikan (Bagian 2258)

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:35 WIB

Mutiara Pagi: Prasangka (Bagian 2256)

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:37 WIB
X