Yang kau anggap kecil hari ini
Bisa menjadi tinggi esok hari
Sebab waktu menyulam janji
Dengan benang yang tak kaupahami
Jangan terlalu tegak saat berdiri
Belajarlah pada tanah yang terinjak kaki
Angin yang memujimu hari ini
Esok hari, mungkin tak menghiraukan lagi
Gemuruhmu akan mengecil
Langitmu akan kehilangan warna
Bukan sesuatu yang mustahil
Hanya menunggu giliran tiba
Lalu menjadi pelupa yang lembut
Bahwa dulunya suka menyikut
Ketika semuanya lenyap di tangan
Baru terasa indahnya kerendahatian
Tersisalah mereka yang tulus
Meski tak menemani terus menerus
Sementara yang lain harap maklum
Ketika menjauh sambil tersenyum
Semua itu adalah cermin
Bahwa siapa pun harus yakin
Setinggi apa pun kedudukan
Sebanyak apa pun kekayaan
Tak lebih dari sepotong roti
Hanya sesaat yang bisa dinikmati
Malang, 6 Mei 2025
Salam Sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Realita Kehidupan (Bagian 1829)
BEM PTNU Serukan Reformasi Ketenagakerjaan Berkeadilan di Hari Buruh 2025
Mutiara Pagi: Di Sebuah Galaksi (Bagian 1830)
Refleksi Harlah ke-91, PAC GP Ansor Karangtengah Gaungkan Ketahanan Pangan dan Semangat Kebangsaan
Uniknya Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Sambilawang, Sukoharjo
Menyoal Wahyu - Ramzi di Gading Asri, Uji Kompetensi "Bupati Baru" antara Janji dan Eksekusi !
Mutiara Pagi: Beradu ide (Bagian 1831)
Seminar Public Speaking Jadi Bekal Pemimpin Muda di STAI Al-Azhary Cianjur
7 Langkah Jitu Agar Berita Anda Tampil di Google News
Eksistensi Guru Islam dalam Pusaran Zaman