Redanya euforia idulfitri
Meninggalkan kenangan dan pertanyaan
Apakah kita benar-benar memaknai
Idulfitri sebagai hari kemenangan
Atau kembali seperti semula
Idulfitri tidak berdampak apa-apa
Senyum tak lagi sepenuh jiwa
Maaf pun terucap hanya sekadar kata
Perbuatan kembali ke jalan lama
Lisan tajam, hati berprasangka
Gelap pun kembali mengintai
Bagai cerita yang tak kunjung usai
Meski puasa telah ditunaikan
Hati berat memberi pengampunan
Padahal Idulfitri mengajarkan
Lapang dada dan kasih tanpa batasan
Idulfitri bukan hanya seremonial
Bukan pula hanya pesta tahunan
Tapi momen suci yang sangat sakral
Di dalamnya penuh dengan keajaiban
Dengan hati terbuka
Renungkan makna Idulfitri sesungguhnya
Meski belum benar-benar kembali suci
Tapi menjadi pribadi yang lebih berarti
Malang, 6 April 2025
Salam sehat,
M. Sina
Artikel Terkait
Perjalanan Legendaris dari Batavia ke Soerabaja, Uji Ketahanan Mobil OPEL pada 1935
Mutiara Pagi: Kilau Cinta di Ujung Jemari (Bagian 1800)
Idul Fitri dan Ketupat
Bahaya Kepemimpinan yang Tidak Kompeten, Refleksi dari Kutipan Denis Fonvizin
Tragedi di Pantai Sayang Heulang: Wisatawan Tenggelam Ditemukan Setelah 24 Jam
Mutiara Pagi: Kembali ke Kesibukan (Bagian 1801)
Menghubungkan Jalan Ilmu Sulaiman: Warisan dan Doa Para Karuhun
Perum Bulog Jelang Ulang Tahun ke-58
Menyambut Pagi dengan Kesegaran Terik Matahari
Keindahan Tersembunyi Pantai Karangpotong di Cianjur Selatan