Menurut data DJKI, terdapat tiga provinsi yang mendominasi daftar produk IG nasional:
Jawa Tengah - 24 produk
Nusa Tenggara Timur (NTT) - 21 produk
Jawa Timur - 18 produk
Ketiga provinsi ini telah konsisten menghasilkan produk IG karena memiliki komunitas yang menjaga kualitas, proses produksi, dan warisan tradisi yang menjadi ciri khas masing-masing produk.
Komoditas Pertanian dan Perkebunan Menguatkan IG Indonesia
Sektor pertanian dan perkebunan tetap menjadi pilar utama bagi IG Indonesia.
Dari total 261 produk terdaftar, sektor ini menyumbang angka terbesar dengan 164 produk, yang di antaranya termasuk kopi Arabika Kintamani Bali, yang menjadi IG pertanian pertama di Indonesia.
Selain itu, produk dari sektor kerajinan tangan tercatat sebanyak 57 produk, sektor kelautan dan perikanan 17 produk, kehutanan 4 produk, dan peternakan 4 produk.
Dominasi sektor pertanian ini menunjukkan potensi besar agrokomoditas Indonesia yang masih dapat terus diperkuat melalui perlindungan IG.
Baca Juga: Melintasi Waktu di Jembatan Cirahong, Ikon Bersejarah dari Era Kolonial
Supratman menjelaskan bahwa pencapaian Indonesia sebagai pemimpin ASEAN dalam jumlah IG adalah salah satu target yang telah ditetapkan sejak awal.
Keberhasilan ini mendorong pemerintah untuk terus menggali potensi produk khas daerah yang belum terlindungi dan berpotensi besar untuk meningkatkan perekonomian lokal.
"Indonesia adalah negara dengan megabiodiversitas terbesar kedua di dunia. Masih banyak produk khas daerah yang belum terlindungi dan memiliki potensi untuk mengangkat perekonomian lokal," ujar Supratman.
Perlindungan IG tidak hanya berfungsi menjaga nilai budaya, tetapi juga memberikan peluang bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah penghasil produk tersebut.
Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Hermansyah Siregar, menambahkan bahwa DJKI akan memperkuat layanan pendaftaran IG, khususnya di daerah yang masih kurang tereksplorasi.
Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap potensi lokal dapat diidentifikasi, didaftarkan, dan dilindungi secara berkelanjutan.