Gencatan Sejata Israel-Hizbullah dan Dunia Global

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 1 Desember 2024 | 05:07 WIB
Asap dan api mengepul dari sebuah bangunan tempat tinggal yang terkena serangan Israel, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan Hamas, di kamp pengungsi Nuseirat, di Jalur Gaza bagian tengah.  (REUTERS)
Asap dan api mengepul dari sebuah bangunan tempat tinggal yang terkena serangan Israel, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan Hamas, di kamp pengungsi Nuseirat, di Jalur Gaza bagian tengah. (REUTERS)

Walaupun tanpa disadari dengan ekonomilah kelak politik bahkan militer dunia dapat ditundukkan. China mampu membuktikan itu di mayoritas negara-negara Asia Afrika, bahkan di negara-negara Latin dan Amerika Selatan.

Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah di Libanon dicurigai terjadi karena beberapa hal. Tapi yang pasti bukan karena Israel murni ingin berdamai dengan Hizbullah. Apalagi di bawah kepemimpinan seorang politisi radikal Benjamin, Israel jika saja memungkinkan bahkan ingin lebih memperluas konflik di Timur Tengah.

Tujuannya satu, melemahkan semua pihak-pihak yang dianggap ancaman bagi negara zionis itu. Bahkan lebih jauh dengan dorongan keyakinan zionis, beberapa negara termasuk Mesir, Jordan, Suriah bahkan hingga Saudi Arabia merupakan bagian dari daerah-daerah yang harus dikuasai oleh Israel.

Genjatan senjata ini juga mengekspos fakta bahwa Israel sesungguhnya tanpa dukungan Amerika tidak akan berani dan mampu melanjutkan peperangan itu. Hal ini semakin memperkuat asumsi (fakta) yang selama ini banyak disebut bahwa sesungguhnya Amerika mampu menghentikan genosida Israel di Gaza.

Tapi Amerika tidak melakukan itu karena bagaimanapun Gaza tidak dianggap bagian dari sebuah negara besar di Timur Tengah (Iran). Berbeda dengan Hizbullah yang dengan terbuka memang dikenal sebagai bagian dari kekuasaan regional Iran, baik secara politik maupun ideologi keagamaan (syiah).

Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa Iran adalah kekuatan yang masih diperhitungkan oleh dunia global, termasuk Amerika. Fakta ini menjadikan beberapa negara di Timur Tengah menjadi cukup ketakutan.

Selain Israel, Saudi Arabia, Uni Emirate, Mesir dan beberapa negara lainnya menjadi sangat khawatir dengan kekuatan dan dominasi Iran di Timur Tengah. Apalagi Irak dan Suriah semakin terbuka menjadi bagian dari Koalisi Iran di Timur Tengah.

Di sinilah kemudian Rusia dengan sangat lihai memainkan peranan globalnya. Iran mampu merangkul dua kubu yang merasa saling terancam; Saudi dan Iran. Saudi menjadi bagian dari BRICS.

Sementara Iran walaupun bukan bagian dari kubu BRICS tapi dalam sejarahnya selalu dekat dengan Rusia. Sehingga Rusia jelas mampu menyatukan pihak-pihak yang berseberangan (Iran) maupun yang dianggap dekat dengan Amerika (Saudi Arabia).

Kini dengan terpilihnya Donald Trump Rusia akan semakin berada di atas angin. Donald Trump memang dikenal dekat dengan Putin. Dan yang lebih penting Donald Trump memiliki mindset keuangan dalam kepemimpinan.

Sehingga untuk ikut terlibat dalam kancah peperangan-peperangan global itu dia akan berpikir dua kali. Maka minimal dalam beberapa tahun ke depan Rusia akan banyak mengendalikan dunia, khususnya Timur Tengah. Dan China akan terus menggandeng untuk ambisi ekonomi globalnya.

Yang akan menangis dalam beberapa tahun kedepan ini, minimal 4 tahun, adalah Ukraine. Trump tidak akan tertarik membantu negara itu melawan Rusia. Sementara Israel masih bisa tersenyum. Karena kemungkinan Trump tidak membantu secara militer.

Tapi akan terus Israel membantu melalui tekanan diplomasi dan/atau sogokan ekonomi (untuk negara-negara Arab/Muslim) untuk semakin memperluas pendudukan di tanah-tanah yang diakui Zionis Israel.

Sementara dunai Islam jika tidak sadar, akan tetap tersenyum asam menjadi penonton melihat pergerakan dunia yang semakin ganas. Dunia Islam akan tetap hebat di ruang-ruang summit dengan pidato-pidato hebat dan kutukan. Tapi semua itu masih bagian dari NATO (no action talk only)…. Wuiih!

Jamaica Hills, 30 Nopember 2024

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Titip Salam dan Cara Menjawabnya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB

Tangan Tetap di Pelatuk, Memaksa Zionis Tunduk

Jumat, 10 Oktober 2025 | 07:30 WIB

Delegasi Pesantren Al Masykuriyyah di Uzbekistan

Minggu, 28 September 2025 | 17:48 WIB
X