Terkadang kita berdebat
Merasa yang paling hebat
Terkadang kita bertengkar
Merasa yang paling benar
Sampai lupa mau berhenti
Meninggalkan jalan yang tak pasti
Sehingga kedamaian terasa jauh
Karena pelupuk mata yang lusuh
Padahal di balik semua itu
Selalu ada sejumlah teka-teki
Ke mana hidup hendak menuju
Setelah semua itu terjadi
Seperti embun
Yang jatuh tanpa janji
Membasahi daun-daun
Yang merindu di ufuk pagi
Lalu kering perlahan
Bagai langkah tanpa beban
Mengikuti arah takdir
Bersama waktu yang mengalir
Begitu pula keberadaan kita
Seperti bayang-bayang di kaca
Hari ini tegak berdiri
Esok hanya tinggal memori
Entah senyum, entah haru
Semua nyata akan berlalu
Hanyalah benih-benih kebaikan
Menjadi pohon rindang keabadian
Malang, 30 November 2024
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Aturan Tidak Tertulis (Bagian 1694)
Cianjur Independent Society (CIS) : Pilkada Telah Usai, Mari Songsong Kabupaten Cianjur yang Lebih Baik
Harmoni Kalbu dan Akal
Pangkalan TNI AU Iswahjudi
Titip Salam dan Cara Menjawabnya
Mutiara Pagi: Quotes Tokoh Dunia (Bagian 1695)
Simulasi ASAS SMPN 3 Cibeber: Lebih Semangat dengan Gedung Baru
Pujian Itu Ujian, Larangan Memuji Berlebihan
Adakah Dosa Jariyah
Benarkah PDI Perjuangan Game Over Setelah Macan Solo Turun Gunung?