Journalnusantara.com - Kawasan Asia Tenggara umumnya dihuni oleh ras Mongoloid yang merupakan penutur bahasa Austronesia.
Secara geografis, kawasan ini memiliki jenis tanaman yang serupa, seperti bambu, pisang, kelapa, palm, padi, nangka, kluweh, pandan, dan sebagainya.
Kondisi geografis inilah yang mempengaruhi variasi kuliner di kawasan ini, serta memberikan kesamaan dalam penggunaan media berbahan daun-daunan (seperti daun kelapa, janur, dan daun palm), bambu, dan sebagainya.
Penggunaan bahan-bahan ini sudah berlangsung lama, bahkan sebelum agama-agama dari Hindustan, Arabia, dan Eropa masuk ke kawasan ini.
Salah satu jenis makanan yang menggunakan media bahan janur adalah kupat, yang dikenal dengan berbagai sebutan di berbagai daerah, seperti kupat (Jawa, Sunda, Betawi), keutupet (Aceh), ketupat (Melayu), tipat (Bali), ketopak (Madura), dan bugnoy (Tagalog).
Sebutan "kupat" dan kata turunan seperti khupat-kupatan, akupat, atau pakupat dapat ditemukan dalam karya-karya sastra seperti Kakawin Kresnayana (13.2, 31.13), Kakawin Subadra Wiwaha (27.8), Kidung Sri Tanjung (36.f), dan kata "Kupatay" dalam Kakawin Ramayana (26.25).
Ini menunjukkan bahwa sebutan kupat sudah ada sejak era Bahasa Kawi. Selain itu, kata "lepet", yang berarti rapat, sempit, ketat, atau tersusun rapat, juga merujuk pada kuliner dalam kitab Korawasrama (132). Dengan demikian, kupat tidak berarti ngaku lepat.
Dalam tradisi ritual pemeluk Hindu dan Syaiwa-Buddha yang sudah ada lebih dari tujuh abad sebelum Islam masuk ke Nusantara, kupat digunakan sebagai media banten (sesajian) kepada Tuhan, dan tradisi ini terus berlangsung hingga kini.
Berdasarkan buku Mengenal Budaya Nusantara: Trah Raja-Raja Mataran di Tanah Jawa, dijelaskan bahwa pada abad ke-18, Raja Sri Susuhunan Pakubuwana IV dari Kerajaan Mataram Kasunanan Surakarta mempopulerkan kupat sebagai bagian dari tradisi bakdho pada perayaan Idul Fitri.
Sunan Pakubuwana IV, selain dikenal sebagai tokoh religius, juga merupakan penulis Serat Wulangreh, yang berisi ajaran moral yang luhur bagi masyarakat Jawa.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Kembali ke Kesibukan (Bagian 1801)
Menghubungkan Jalan Ilmu Sulaiman: Warisan dan Doa Para Karuhun
Perum Bulog Jelang Ulang Tahun ke-58
Menyambut Pagi dengan Kesegaran Terik Matahari
Keindahan Tersembunyi Pantai Karangpotong di Cianjur Selatan
Mutiara Pagi: Euforia Reda (Bagian 1802)
Merencanakan Libur Lebaran, Tips untuk Liburan yang Menyenangkan dan Berkesan
Mudik Aman Tanpa Macet, Tips Menyusun Perjalanan yang Lancar
Tips Memastikan Kendaraan Aman Sebelum Liburan
Merawat Kendaraan Agar Tetap Awet dan Tahan Lama