Jika di India Leendert menyumbangkan gajinya untuk kebaikan, pada Agustus 1722 ia menyerahkan gajinya sejumlah 287 gulden kepada seorang pria bernama Jan Becker yang tinggal di Belanda. Jan Becker kemudian mengambil uang gaji Leendert tersebut setahun kemudian di hadapan notaris dan saksi yang menjadi wakilnya.
Sepertinya Leendert harus memberikan gajinya sebagai ganti rugi untuk suatu hal yang dilakukannya dulu ketika masih tinggal di Belanda.
Mungkinkah hal itu terkait dengan perilaku seks? Tak ada catatan rinci mengenai hal itu. Yang jelas Leendert memutuskan untuk kembali ke Belanda pada 1725.
Saat kapal yang membawanya pulang ke kampung halamannya singgah di Cape Town, Leendert Hasenbosch diputuskan bersalah atas prilaku sodomi.
Tak diketahui nasib yang menimpa lelaki lainnya, tetapi Leendert harus mengalami siksaan bertahan hidup sendirian di Pulau Ascension.
Pulau Ascension saat itu adalah neraka di bumi. Keterpencilan dan ketersediaan air tawar sangatlah terbatas. Leendert mencoba bertahan hidup dengan memburu dan memakan penyu, camar laut dan burung-burung laut lainnya.
Untuk menghemat persediaan air tawar, ia terkadang mencampur darah penyu dengan teh. Bahkan ketika air tawarnya mulai habis ia meminum air seninya sendiri.
Rasa haus dan dehidrasi yang mengakhiri hidupnya. Kru kapal Inggris Campton yang mendarat di Pulau Ascension untuk memperbaiki dan menambah persediaan makanan hanya menemukan tenda kosong di tepi pantai dan buku catatan harian. Walaupun telah dicari mayat Leendert tak pernah ditemukan.
Dalam catatan hariannya tergambar Leendert Hasenbosch tak hanya berjuang bertahan hidup, tetapi juga berkonflik dengan batinnya yang harus menanggung rasa bersalah. Dalam keputusasaan, ia terkadang mendengar suara-suara sumpah serapah tanpa wujud.
Ia mengaku melihat penampakan orang-orang yang pernah melakukan dosa perbuatan sodomi bersamanya. Leendert terkadang berdoa agar Tuhan mengakhiri penderitaannya dan mengampuni semua dosanya di dunia.
@Sejarah Cirebon
Artikel Terkait
Jangan Cengeng, Optimis Raih Swasembada Pangan
Mutiara Pagi: Di Atas Kota Perak (Bagian 1741)
Pertama Kali di Cianjur, Terasia Episode 2
Paradoks Perberasan
Menyibak Hakikat Kerugian dalam Lintasan Waktu
Igornas Cianjur Sosialisasikan Senam Waringkas dan Anak Indonesia Hebat
Mutiara Pagi: Di Sini Tempat Lahir Kita (Bagian 1742)
Mengurai dan Menakar Luka di Tengah Konflik yang Tak Sehat Oleh: Munawir
Hadiah Awal Tahun: Jennifer, Siswi SMA Menerima Islam
Upaya Wujudkan Indonesia Emas, GP Ansor Luncurkan Asta Cita Center