Journalnusantara.com, Cianjur - Pertama kali di Cianjur, seniman-seniman dari Indonesia, Jepang dan Myanmar akan berkolaborasi dalam rangkaian acara Terasia Episode 2.
Pada hari Jumat, 10 Januari 2025, Terasia sudah dibuka lewat Opening Night di Kilometer95kopi. Selanjutnya Terasia Episode akan melanjutkan serangkaian acaranya, sampai tanggal 19 Januari 2025.
Terasia itu sendiri merupakan teater untuk bepergian di Era Isolasi. Sebuah proyek kolaboratif yang bermula di Asia pada 2020, pada awal merebaknya pandemi Covid-19 di seluruh dunia.
“Cianjur mendapatkan kesempatan yang langka dan bisa dengan penuh sukacita, menyelenggarakannya,” tutur Faisal Syahreza, sebagai ketua program acara di Cianjur, sewaktu dihubungi menyampaikan.
Gagasan Terasia ialah dari kolektif—yang tersusun oleh praktisi seni multidisiplin dari Thailand, Myanmar, Indonesia, Vietnam, dan Jepang, di mana mereka sudah terlibat dalam serangkaian luas proyek kreatif di berbagai lokasi.
Terasia episode pertama diselenggarakan di Jakarta dan Bandung, di tahun lalu, 2024.Pada mulanya, bepergian melintasi batas negeri dibatasi karena adanya kebijakan pencegahan pandemi. Cetak biru awal kami untuk TERASIA adalah agar seniman di Asia menciptakan kembali dan mentransformasikan sebuah karya teater, yang pertama kali ditampilkan di Tokyo pada 2018.
Selama episode yang kedua ini, TERASIA akan memberikan banyak suguhan yang menarik dan jarang diselenggarakan. Beragam rangkaian acara seperti Pertunjukan Teater Kolaborasi, Musik, Pameran dan juga ada Workshop dan Diskusi. Dan yang paling menarik ialah ritual dan meditasi yang akan diselenggarakan di Gunung Padang.
“Saya sedang berusaha menyambut mereka (seniman-seniman), agar mereka bisa langsung bersama seniman-seniman di sini menciptakan karya bersama,” tambah Faisal ketika dihubungi via telepon.
Berikut adalah seniman-seniman yang bisa hadir dan turut menjadi bagian acara secara langsung: Yukari Sakata, Miho Inatsugu, Maho Watanabe, Ken Takuguchi dan Emma dari Jepang. Kemudian Zun Ei Phyu, Thila Min dan Soe Moe Thu dari Myanmar.
Yang menarik dari Indonesia tidak kalah menarik yakni: Dindon W.S, Yustiansyah Lesmana, Lawe Samagaha dari Jakarta. Sugiyanti Ariani, Deden Bulqini, Vicky Mono, Toni Broer, Aji Sangiaji, Wail dan tim lainnya dari Bandung.
“Saya juga ajak aktor-aktor, musisi, dan lintas seniman di Cianjur, untuk jangan ragu menyatukan ide dan berkarya bersama,” disampaikan Faisal yang juga merupakan pendiri Ngawitan Ruang Tumbuh sebagaimana menahkodai program di Terasia di Cianjur berlangsung.
Sedangkan dari Cianjur, banyak yang terlibat dan mendukung seperti mulai dari Fajar Rachmat (Bumi Ageung Cikidang); Yusuf Gigan (Dewan Kesenian Cianjur); Adam Jabbar (CCC) dan Rully Moreno berserta Adi dan Lutfi dari Kilometer95kopi dan Lokatmala juga media patner.
“Akan banyak seniman yang bersusulan datang ke Cianjur, sebenarnya, saya hampir sudah tidak sabar untuk menjadi bagian semuanya. Sayang kalau kita melewatkannya, ini belum tentu bisa dilakukan lagi di Cianjur, apalagi semua acar Gratis,” Faisal semangat sekali menjelaskan.
“Tidak, tidak, tidak, kami tim benar-benar nirlaba. Semua pendanaan inisiatif dari mereka mandiri dan saya (tim Cianjur) pun demikian bekerja.” Ucap Faisal Syahreza, ketika ditanya apakah ini berbayar dan bertiket.
Artikel Terkait
Bahasa Tak Bersuara yang Dituturkan Taqdir
Mutiara Pagi: Kebaikan adalah Jendela (Bagian 1739)
Tempo Dulu: Perempuan Eropa di Jakarta
Pesawat N-219 Nurtanio
Silsilah Keluarga Raja Demak
Inilah yang membuat Majapahit Tenggelam
Mutiara Pagi: Cahaya Kemanusiaan (Bagian 1740)
Kebakaran Los Angeles, Azab dan Hoax
Menemukan Keselamatan di Tengah Gemuruh Dunia
Mutiara Pagi: Di Atas Kota Perak (Bagian 1741)