Artinya, jihad dengan cara seperti ini berpotensi menghilangkan nyawa pelaku jihad dalam bentuk konfrontasi fisik. Sebagai contoh dari jihad fī sabīlillah adalah pengorbanan para pahlawan bangsa dalam merebut kemerdakaan, hal ini juga bisa dilihat dari para syuhada yang gugur di medan pertempuran untuk membela agama mereka.
Adapun jihad dalam bentuk yang kedua adalah usaha sungguh-sungguh (menghampiri Allah), dalam hal ini, kita memperdalam aspek spiritual sehingga terjalin hubungan erat antara seseorang dengan Allah SWT.
Usaha sungguh-sungguh ini diekspresikan melalui penundukan tedensi negatif yang bersarang di jiwa setiap manusia, dan penyucian jiwa sebagai orientasi dari segala kegiatan. (14 Alwi Shihab, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka Dalam Beragama (Bandung: Mizan, 1999), 283)
Apa Lili, punya golok pamungkas kesayangan yang digunakan untuk memukul mundur Belanda. Golok inilah salah satu saksi bisu yang paling valid. pernah Ia berkata kepada salah satu santrinya: ”Eta golok aya nu hideungan urut geutih walanda nu dikadeuk keur perang Bojongkokosan”.
Dalam terjemahan bebasnya, artinya ”golok itu ada karatan bekas darah orang Belanda yang dibacok).
Saat terjadi pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Tanah air, Apa Lili pro aktif menghalau berkembangnya paham komunis tersebut ditengah masyarakat dengan berorganisasi di Organisasi Masyarakat Nahdhatul Ulama (ORMAS NU) dan pernah menjabat sebagi Dewan Syuriah Nahdlatul ‘Ulama tingkat Kecamatan Cisaat (MWC) selama 5 Tahun pada tahun 1965 – 1970, pernah suatu hari Apa Lili didatangi oleh seorang anggota PKI yang berperawakan tegap dan tinggi di Pesantrennya, orang itu bercerita panjang lebar tentang paham Komunis sehingga terjadi perdebatan panas dan dia berkata : “dia bangga sebagai seorang PKI” Apa Lili pun menjawab : “saya pun bangga sebagai seorang Nahdhiyyin” karena tidak adanya titik temu dalam perdebatan tadi dan unsur pemaksaan pada akhirnya Apa Lili mengajak duel orang tersebut tetapi orang itu langsung meninggalkan pesantren dan tidak pernah Kembali lagi.
Seperti yang dikemukakan oleh KH. Bukhori Muslim, beliau adalah Tokoh Agama Kecamatan Cikembar dan Juga Pimpinan Pondok Pesantren Al Imam, bahwa “Kristenisasi di Kecamatan Cikembar yang gencar mungkin terjadi pada tahun 1970, mereka para Misionaris mendirikan sebuah lembaga disini yakni Sekolah Motivator Indonesia yang menyediakan tenaga-tenaga misionaris untuk terjun ke wilayah Indonesia dan digembleng di Cikembar, pada tahun 1993 lembaga ini ditutup dengan alasan karena ketiadaan dana, dan memang mereka sudah berhasil sekali, sudah bisa mengkristenkan banyak keluarga muslim yang berbasis suku sunda dan memukimkan mereka di lokasi Cikembar sini setiap masyarakat berbasis suku sunda dimukimkan di sini sehingga gereja yang mereka bangun Gereja Pasundan Indonesia”. ( digilib.uinsgd,ac,id/23187/4/4_bab1.pdf )
Dalam rangka membendung “Gerakan Kristenisasi” di Kecamatan Cikembar pada tahun 1970 disamping melebarkan sayap dakwah Islamiyah di wilayah Sukabumi Tengah, Apa Lili menugaskan anaknya yang bernama Kyai Muhammad Saefullah untuk mendirikan Majlis Taklim Al-Huda dan Madrasah Diniyah Sirojul Athfal di Kampung Citengah Rt.06 Rw.02, Desa Sukamulya, Kecamatan Cikembar.
“Al-Walad Kaifa Abuhu” sebagaimana Apa Lili begitu pula keilmuan Kyai Muhammad Saifullah anaknya, ia hafal 1.002 bait nadzhom Kitab Alfiyah Ibnu Malik dan terbukti saat pertama kali menginjakkan kakinya disana langsung disuruh untuk menjadi Imam dan Khotib Sholat Jumat, sehingga kehadirannya diterima dengan tangan terbuka dan antusias masyarakat untuk memerangi kristenisasi di kampung mereka, bahkan Tokoh masyarakat yang bernama Tubagus Ujang Abdullah bin Mama Sumawinata menikahkan puterinya yang bernama Titin Hartini kepada KH. Muhammad Saifullah.
Setelah lahirnya Order Baru (ORBA) Apa Lili fokus mengembangkan Pondok Pesantren, berdakwah dan berkarya dalam Literatur Islam, Salah satu karyanya berupa buku “Isyarah Huruf Hijaiyah” pada tahun 1985, hal ini dapat ditelusuri lewat buku Biography ”Buya KH. Dadun Sanusi” yang ditulis Lia Nuraliah, S.S, M.M pada tahun 2005 lalu.
Di sini disebutkan bahwa Apa Lili sempat menulis karya buku berjudul ”Isyarah Huruf Hijaiyah” yang dilahirkan dengan cara mengawinkan antara kajian akademis keislaman dan aspirasi spiritualitas atau ilham.
Baca Juga: 100 Tahun Nahdlatul Ulama
Buku fenomenal ini, rutin diajarkan kepada para santrinya, terutama saat pengajian ashar yang digelar dari tahun 1985 hingga 1986.
Apa Lili memiliki karomah yang tidak main-main. Bentuk karomahnya dialami langsung oleh seorang santrinya ketika beberapa kali pergi umrah dan haji pada tahun 1987 dan 1992 di mana mereka mengaku bertemu Apa Lili sedang menunaikan shalat di Masjidil Haram, Makkah.
Padahal setelah dikonfirmasi setelah ia tiba di Indonesia bahwa saat itu Apa Lili berada di tanah air. Dan ternyata beberapa santri lainnya pun pernah mengalami hal serupa bertemu dan /atau melihat Apa Lili sedang shalat di Masjidil Haram.