daerah

Dokter PPDS Anestesi Unsrat Ditemukan Meninggal Dunia di Kamar Kosnya

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:04 WIB
Foto ilustrasi: Dokter PPDS Unsrat meninggal dunia diduga karena bunuh diri. (Freepik/freepik)

 

JOURNALNUSANTARA.COM, MANADO - Kabar duka kembali menyelimuti dunia kedokteran tanah air setelah seorang dokter yang tengah menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis Anestesi di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado ditemukan wafat di kediamannya.

Almarhum yang diidentifikasi bernama dokter Adrian Rantung tersebut selama ini menjalankan praktik pendidikan di Rumah Sakit Umum Pusat Prof. Dr. R. D. Kandou.

Peristiwa pilu ini langsung memicu gelombang perhatian besar dari masyarakat luas setelah mencuat rumor di jagat maya mengenai adanya indikasi perundungan yang melatarbelakangi insiden fatal ini.

Berdasarkan kabar yang beredar luas di platform media sosial, jasad sang dokter muda pertama kali didapati oleh rekan sejawatnya di dalam kamar tempat ia indekos.

Penemuan ini berawal dari kecurigaan sesama peserta didik lantaran almarhum tidak memunculkan diri saat jadwal dinas jaga yang seharusnya ia penuhi pada hari Minggu pagi.

Ketika pintu kamarnya diketuk tanpa ada respons, rekan-rekannya berinisiatif memeriksa hingga akhirnya menemukan korban sudah dalam kondisi tidak bernyawa yang diduga kuat akibat tindakan mengakhiri hidup sendiri.

Di samping kronologi penemuan jasad, warga net juga dihebohkan dengan beredarnya tangkapan layar yang disinyalir sebagai pesan terakhir korban melalui pembaruan status di aplikasi percakapan instan miliknya.

Dalam unggahan gambar berlatar air tersebut, tertulis pesan mendalam mengenai hilangnya motivasi untuk terus melangkah karena menganggap tidak ada lagi hal yang patut dipertahankan.

Kalimat tersebut menyiratkan rasa lelah yang mendalam, di mana sang penulis menyatakan dirinya bukan menyerah melainkan memilih untuk perlahan-lahan hanyut menjauh.

Kementerian Kesehatan sendiri telah menyampaikan pernyataan duka cita secara terbuka melalui akun media sosial resmi milik instansi tersebut.

Meski demikian, unggahan bela sungkawa itu justru dibanjiri oleh desakan dari komunitas tenaga medis serta masyarakat yang menuntut investigasi menyeluruh atas latar belakang kematian sang dokter.

Sejumlah dokter senior dan sejawat mendesak otoritas kesehatan untuk mengambil tindakan nyata dalam melindungi para peserta didik spesialis agar lingkungan pendidikan kedokteran di Indonesia terbebas dari tekanan yang tidak wajar.

Hingga laporan ini diturunkan ke publik, otoritas terkait mulai dari pihak Kementerian Kesehatan, manajemen Universitas Sam Ratulangi, hingga pengelola rumah sakit rujukan tempat korban bertugas masih belum merilis konfirmasi resmi.

Halaman:

Tags

Terkini