daerah

Warga Sambalado Tetap Semangat Rayakan Kemerdekaan Meski Indonesia Banyak Masalah

Rabu, 13 Agustus 2025 | 05:50 WIB

Journalnusantara.com - Saat itu masih terbilang pagi, pkl. 06.00 wib. Samar terdengar dentuman irama dangdut. Ada acara apa dan di mana? Tidak butuh waktu lama melacak sumber suara yang berasal dari pedukuhan Sambalado desa Demakan, Mojolaban, Sukoharjo. Di sebuah lapangan kecil, sekelompok anak muda tampaknya tengah melakukan kerja bakti menyiapkan acara lomba Agustusan.

Dalam tradisinya setiap menjelang hari kemerdekaan Republik Indonesia atau yang dikenal dengan istilah 17-an, beragam rangkaian acara memang sudah dimulai jauh hari sebelum tanggal 17 Agustus. Bahkan sampai akhir Agustus atau paska hari H. Sejak kapan? Sejak lama. Siapa yang menginstruksikan? Tidak ada. Hal ini merupakan inisiatif dan full partisipasi warga setempat.

Memang sepertinya tidak di semua daerah juga wilayah. Di perdesaan atau perkampungan biasanya jauh lebih banyak acaranya dan lebih meriah, ketimbang wilayah perkotaan. Dana bisa terkumpul dari iuran warga (serkileran, Jawa, red), atau bantuan dari donatur, atau juga merogoh kocek kas RT/RW jika ada. Tentu berbeda dengan perayaan sejenis yang diselenggarakan pemerintah baik pusat maupun daerah.

Dana APBN maupun APBD selalu tersedia, lebih tepatnya disediakan untuk perayaan HUT RI setahun sekali. Hingga ada sebuah postingan di medsos yang sepertinya menyentil pemerintah, "Mengapa pemerintah tidak menggunakan dana yang berasal dari iuran pejabatnya? Mengapa juga pemerintah tidak memberi anggaran kepada masyarakat agar turut merayakan?"

Rakyat memang tidak pernah meminta, merengek ataupun mengemis kepada negara untuk mengadakan lomba 17-an. Jadi jika dipikir, siapa yang lebih patriotis di sini? Pemerintah atau rakyat? Pemerintah hendaknya introspeksi janganlah terus menyakiti hati rakyatnya jika belum bisa mensejahterakan mereka. Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, begitu dirindukan rakyat.

Kembali kepada acara lomba di kampung Sambalado. Kegiatan ini sepenuhnya dilaksanakan oleh kaum muda yang tergabung dalam wadah Karang Taruna. Sesepuh dan pengurus kampung serta warga masyarakat memberi kepercayaan sepenuhnya kepada anak-anak muda. Masing-masing RT turut menyumbang dana dan selebihnya dipikir sendiri oleh panitia. Karang Taruna juga memiliki kas sendiri.

Kalangan muda Sambalado (Sambilawang dan Dobayan) dilatih mandiri, kreatif dan bisa melakukan apapun, dan nyatanya bisa. Terlepas dari kekurang-sempurnaan, karang taruna sudah melaksanakan tugas dengan baik dan amanah. Warga masyarakat senang terhibur, pedagang kaki lima kecipratan rezeki, kaum muda mendapat banyak pembelajaran dan pengalaman.

Kabul Riyadi, Ketua RW 1 Sambilawang, sekaligus juga sesepuh pembina karang taruna mengaku bangga dan kaget melihat hasil kerja karang taruna, "Saya bangga dengan karang taruna yang sudah berhasil mengadakan kegiatan 17-an. Sangat meriah dan banyak pengunjungnya. Animo dan partispasi warga ini juga patut kita apresiasi sehingga kegiatan bisa berjalan lancar," ucapnya pada saat sambutan lomba tumpeng.

Sepemahaman, Ibnu Rosyid, Ketua RW 2, juga mengaku surprise, "Saya tidak menyangka sambutan warga juga keseriusan peserta lomba. Awalnya saya mengira acara ini biasa-biasa saja tapi tidak. Peserta lomba mempersiapkan segala sesuatunya dengan sungguh-sungguh. Inilah modal sosial yang kita miliki berada dalam semangat kebersamaan dan gotong royong," tutur Ibnu saat ditemui di sela acara.

Lomba demi lomba berjalan dengan baik dan lancar. Adanya sedikit "gesekan" di tengah lomba pun menjadi bumbu penyedap perayaan. Hal tersebut sudah biasa dan dianggap lumrah karena masing-masing membawa nama komunitasnya yakni RT. Meski hadiah tidak seberapa tapi demi gengsi terkadang membuat suasana lomba menjadi lebih tegang dan serius, tapi juga mengundang tawa.

"Menjadi omongan" merupakan konsekuensi dari sebuah penyelenggaraan kegiatan atau acara apapun di kampung, "Saya kira, ya beginilah kondisi masyarakat kita. Apapun pasti akan dibicarakan orang. Jangankan yang buruk, bahkan hal baik pun tidak luput dari ghibah," ujar seorang warga. Sepanjang tidak memecah-belah kekompakan dan hubungan silahturahmi, maka itu hal yang bisa diterima..

Adapun beberapa rangkaian kegiatan menyambut hari kemerdekaan HUT RI ke 80 di Pedukuhan Sambalado ini terdiri dari acara lomba anak-anak (game), lomba antar RT: bola volly dan menghias tumpeng. Selanjutnya masing-masing RT juga mengadakan acara sendiri, seperti: gerak jalan, tirakatan, lomba-lomba, senam, dll. Agenda acara belum semuanya terlaksana dan suasana semarak sangat terasa sepanjang Agustus ini.

Halaman:

Tags

Terkini