JOURNALNUSANTARA.COM, CIANJUR - Suasana Kafe Kopi Unggun di Jalan Nagrak, Kabupaten Cianjur, tampak lebih riuh dari biasanya. Puluhan anak muda, akademisi, dan aktivis berkumpul bukan sekadar untuk menyesap kopi, melainkan untuk menghadiri acara "Ngariung Edukatif".
Kegiatan yang diinisiasi oleh Asosiasi Pendidikan Rakyat (APERKAT) berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam (HIMA PAI IAI) Al-Azhary Cianjur ini menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi paralel film Pesta Babi.
Acara ini berhasil memantik perhatian dari berbagai elemen masyarakat. Berdasarkan pantauan, ruang diskusi dipadati oleh perwakilan lintas organisasi, mulai dari Forum Pecinta Alam di Cianjur, dosen, pemerhati lingkungan, hingga masyarakat umum.
Ketua APERKAT, Firman Abdul Aziz yang akrab disapa Kang Ego menjelaskan bahwa pemilihan film Pesta Babi bukan tanpa alasan. Pihaknya hadir untuk mengupas tuntas narasi yang dihadirkan dalam film tersebut dari berbagai sudut pandang.
Menurutnya, karya visual ini merupakan pemantik yang kuat untuk membuka cakrawala masyarakat, khususnya generasi muda di Cianjur, mengenai realitas ekologis dan kemanusiaan di wilayah Timur Indonesia.
"Kegiatan nobar dan diskusi film Pesta Babi ini menjadi sarana edukasi tentang lingkungan dan perubahan iklim (climate change). Lebih dari itu, ini menjadi bentuk kepedulian nyata kita kepada masyarakat tanah adat Papua yang tengah berjuang mempertahankan ruang hidupnya," ujarnya, Minggu (17/5/2026).
Diskusi yang berlangsung setelah pemutaran film berjalan dinamis dengan menghadirkan perspektif yang kaya.
Sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, termasuk perwakilan APERKAT, pegiat literasi, HIMA PAI IAI Al-Azhary, serta aktivis pendidikan dan lingkungan, bergantian memberikan bedah kritis atas isu-isu yang diangkat dalam film.
Salah satu sorotan tajam datang dari Hanna Septia Melinda, M.Pd., seorang dosen muda asal Cianjur yang bertindak sebagai narasumber. Ia menekankan pentingnya peran masyarakat sipil (civil society) dalam merespons isu-isu marginalisasi dan kerusakan lingkungan, yang pada akhirnya berkelindan dengan dunia pendidikan.
"Pendidikan itu bukan hanya sekadar transfer ilmu, tetapi pendidikan sejatinya adalah untuk pembebasan dari ketidakadilan dan dari ketidaktahuan. Kita sebagai civil society harus mulai melek terhadap isu yang beredar luas di sekitar kita," tegas Hanna.
Lalu lebih lanjut ia juga menambahkan bahwa krisis yang terjadi di Papua tidak boleh dilihat sebagai masalah lokal semata. Apa yang terjadi di sana memiliki efek domino yang besar, termasuk pada keberlangsungan pendidikan generasi masa depan Papua.
"Saya yakin efek dari kejadian yang menimpa Papua saat ini akan sangat berefek jelas terhadap dunia pendidikan di sana kelak," pungkasnya menutup penyampaian.
Melalui ruang dialektika seperti Ngariung Edukatif ini, para peserta yang hadir diharapkan tidak hanya pulang membawa kesan setelah menonton film, melainkan membawa kesadaran baru dan komitmen bersama untuk terus mengawal isu-isu kemanusiaan, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan dari Cianjur untuk Indonesia.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Tajassus (Bagian 2211)
Juri Grand Final Puteri Anak dan Remaja Lampung 2026, Ada Puteri Indonesia Agita Nazara
Kapolres Cianjur Gotong Jemaah Haji Lansia, Mako Polres Disulap Jadi Penginapan
Polres Cianjur Fasilitasi Keberangkatan Jemaah Haji, Aula Bhayangkara Dialihfungsikan Jadi Penginapan Sementara
Soroti Krisis Tata Kelola dan Rendahnya IPM, PMII Guna Nusantara Gelar Konsolidasi Aksi Darurat Pendidikan di Cianjur
Siswi SMKS Al Ittihad Cianjur Unjuk Gigi di Ajang ASNC UIN Bandung
Mutiara Pagi: Kesibukan (Bagian 2212)
Polres Cianjur Fasilitasi Keberangkatan Jemaah Haji Kloter 24, Beri Pengawalan Khusus Jemaah Lansia
Perdana dalam Sejarah, Mapolres Cianjur Jadi Lokasi Keberangkatan Jemaah Haji Kloter 24 JKS
Munas IKA UIN Banten Dinilai Ilegal, Hasil Kepengurusan Disebut Tidak Sah