JOURNALNUSANTARA.COM, CIANJUR - Publik belakangan ini dihebohkan dengan beredarnya sebuah rekaman video yang memperlihatkan sajian program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang diduga tidak memenuhi standar kelayakan
Merespons kegaduhan tersebut, Kepala Satuan Pelayanan Program Gizi atau SPPG Cisarandi 2, Deas Nugraha, langsung angkat bicara untuk mengklarifikasi duduk perkara sekaligus menjanjikan perbaikan manajemen secara total.
Persoalan ini mulai terendus oleh pihak pengelola pada Selasa pagi, 7 April 2026, setelah mendapatkan laporan mengenai foto dan video menu yang tersebar luas di jagat maya.
Deas menceritakan bahwa sesaat setelah melihat dokumentasi berisi lauk telur tersebut, ia segera memerintahkan tim akuntan dan ahli gizi untuk melakukan pemeriksaan mendadak ke bagian dapur serta sumber daya manusia yang bertugas.
"Hasil kroscek di lapangan menunjukkan adanya ketidaksesuaian yang nyata antara isi dalam video tersebut dengan standar operasional prosedur perusahaan," ujarnya.
Dalam hal ini Deas menjelaskan bahwa pada hari kejadian, menu resmi yang seharusnya dibagikan kepada penerima manfaat meliputi ayam telur asin, tahu, sayur-mayur, serta buah semangka.
Sementara itu, cuplikan yang viral justru menonjolkan sebutir telur yang kondisinya tampak memprihatinkan tanpa disertai komponen makanan lainnya.
Guna meluruskan kesimpangsiuran informasi, pihak pengelola memaparkan bahwa menu telur memang sempat disajikan, namun itu terjadi pada hari Senin atau sehari sebelum video tersebut viral.
Jenis olahannya pun diklaim berbeda karena menggunakan teknik rebus dengan siraman saus kari, bukan seperti penampakan yang memicu protes warga di media sosial.
Hingga saat ini, manajemen SPPG Cisarandi 2 masih menelusuri secara mendalam untuk menemukan titik lemah yang menyebabkan perbedaan kualitas makanan tersebut.
Kemudian Deas mengungkapkan bahwa pihaknya tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan terkait penyebab pasti insiden ini, apakah terjadi pada tahap pengolahan atau justru saat proses distribusi di lapangan.
Mengenai munculnya isu sabotase yang mulai berkembang, ia memilih untuk bersikap hati-hati dan tidak ingin memberikan spekulasi yang tidak berdasar.
Dirinya menegaskan bahwa segala bentuk penyelidikan terkait adanya unsur kesengajaan diserahkan sepenuhnya kepada aparat yang memiliki kewenangan di bidang tersebut.
Dalam upaya menjaga transparansi, Deas juga mengingatkan kembali tentang adanya kesepakatan tertulis dengan pihak sekolah untuk segera melapor jika menemukan kejanggalan pada kualitas pangan.
"Kami sangat menyayangkan jika ada kendala yang justru mencuat di media sosial terlebih dahulu sebelum dilaporkan ke pihak pengelola, karena komunikasi langsung akan mempercepat proses penggantian makanan," tuturnya.
Artikel Terkait
Strategi Efektif Menciptakan Hunian yang Sejuk dan Terang Alami
Mutiara Pagi: Dunia Hanya Tiga Hari (Bagian 2174)
Pertanian dan Perkebunan Jadi Tulang Punggung Ekonomi Cianjur
MGMP Sejarah Cianjur Perkuat Peran Guru dalam Pengembangan Pariwisata dan Budaya Lokal
Mencintai Negara Bentuk Keimanan
Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah
Mutiara Pagi: Saat Hidup Digandeng Langit (Bagian 2175)
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Menyiapkan Amal Terbaik Sebelum Ajal Tiba (Bagian 34)
Wujudkan Persahabatan Melalui Perjalanan Religi, Saniyah Tours Buka Program Umrah Inspiratif Juni 2026
Krisis Api dan Air Republik