Melalui pernyataan ini, GEMAH RIPAH menegaskan bahwa langkah mereka bukanlah bentuk perlawanan terhadap pemerintah, melainkan dorongan moral untuk memperbaiki tata kelola dan mengembalikan marwah pariwisata Cianjur.
“Cianjur tidak boleh membiarkan desa wisata menjadi proyek semu tanpa arah. Transparansi harus menjadi budaya, bukan ancaman,” tegas Aspardi Geri, Koordinator Lapangan GEMAH RIPAH.
Para aktivis berharap Bupati Cianjur mengambil sikap tegas terhadap dugaan penyimpangan yang terjadi, serta memastikan pembangunan desa wisata benar-benar berpihak pada masyarakat, bukan pada kepentingan kelompok tertentu.
Artikel Terkait
Menjaga Batas, Seni Keseimbangan Kerja dan Hidup
Mutiara Pagi: Seni Hidup (Bagian 2018)
Narkoba, Racun Senyap Pemusnah Masa Depan Bangsa
Dewan Kemakmuran Masjid Agung Cianjur Menggelar Diskusi Kajian Islam Aktual
Proses Jalan Terjal Menuju Sukses
Kopi Tubruk, Tradisi Pahit yang Mendekatkan Jiwa Nusantara
Mahasiswa Prodi PMI FDK UIN Bandung Gelar OSPEK di Pesantren Terkeren
Sistem vs Kemanusiaan: Korban Bencana Cianjur Disandera Temuan BPK, Bupati Wajib Ambil Alih Kendali
Mutiara Pagi: Alam Selalu Berbisik (Bagian 2019)
Skandal Dana BOS di Bekasi, BEM PTNU Jabar Desak Audit Total dan Tindak Pidana