Hati-Hati dengan Orang Bermuka Dua (Dzulwajhaeni)

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 15 Februari 2023 | 05:18 WIB
Ilustrasi Orang Bermuka dua (Net)
Ilustrasi Orang Bermuka dua (Net)


Oleh: Shamsi Ali

Salah satu peringatan keras baginda Rasulullah SAW adalah agar kita berhati-hati dengan satu bentuk prilaku manusia yang bersifat ganda. Karakter ganda itu tidak jarang justeru saling berlawanan (paradoxical).

Dalam sebuah hadits Rasulullah mengingatkan: “seburuk-buruk manusia di hari akhirat nanti adalah manusia yang berwajah dua (dzulwajhaeni)”.

Hadits ini menyampaikan bahwa di akhirat nanti ada sekelompok orang yang akan memilki dua wajah. Penampakan dua wajah ini sendiri merupakan penampakan yang buruk. Sehingga wujudnya merupakan bagian dari hinaan sebagai bagian dari adzab Allah SWT.

Baca Juga: Jelang Pemilu 2024, PPP Tunjuk 2 Juru Bicara Partai

Dzulwajhaeni atau orang yang berwajah dua adalah orang yang di satu sisi menampakkan menampakkan wajah tertentu. Namun pada sisi lain orang tersebut menampakkan wajah yang berbeda. Boleh jadi di depan wajahmu dengan wajah ceria dan tersenyum. Namun di belakangmu dia berwajah
seram yang memuakkan.

Dalam kehidupan sosial dan komunal manusia, karanter seperti ini banyak ditemukan. Tentu banyak faktor yang menjadikan seseorang berkarakter demikian. Satu yang terpenting dan dominan adalah karena faktor dunia dengan segala tekanannya (worldly pressure).

Baca Juga: Menparekraf: Pemberitaan Berdampak Positif Bagi Industri Pariwisata Indonesia

Situasi seperti ini dapat terjadi kepada siapa saja. Bahkan termasuk kepada mereka yang memiliki gelar-gelar keagamaan (ustadz, kyai, syeikh, Imam, maulana, malwi, huzur, dst.). Karena sesungguhnya hati manusia tidak terdefenisikan oleh gelar-gelar itu. Tidak juga oleh penampakan luarnya.

Bahkan dalam dunia maya sekalipun. Seringkali kita dibombardir dengan postingan-postingan seolah orang itu paling zuhud, paling tidak tamak dunia. Postingan-postingannya penuh dengan hiasan kata “kematian” dan “cinta akhirat”. Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Langkah-langkahnya kerap kali desktruktif, merusak lingkungan (dan komunitas) karena bertujuan mengail “ikan teri di balik limbah”.

Papatah lama “ada udang di balik batu” seringkali ditampilkan tanpa malu-malu. Hilangnya rasa malu itu tidak jarang mengedepankan “casing” (cover) yang seolah indah dan menawan. Ada yang terbuai dan ada pula yang memang menjadikannya tempat bertengger untuk ambisi tertentu.

Baca Juga: Menteri BUMN dan Menparekraf Hadiri Peresmian Jaringan Pemred Promedia

Dan karenanya berhati-hati dengan “dzulwajhaen” (manusia yang bermuka ganda). Di hadapan wajahmu begitu manis. Di belakang punggungmu begitu bengis. Hadir dengan kata-kata indah syurgawi. Tapi di balik itu bergejolak motivasi busuk demi “mengail ikan-ikan busuk dari genangan air sampah”.

Semoga Allah menjaga kita dan Komunitas kita. Amin!

NYC Subway, 14 Februari 2023

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X