100 Tahun Nahdlatul Ulama

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 31 Januari 2023 | 18:10 WIB
Harlah 1 Abad NU 2023  (Twibbonize.com/Cahaya ilmu)
Harlah 1 Abad NU 2023 (Twibbonize.com/Cahaya ilmu)

Oleh Faiz Manshur (Ketua Odesa Indonesia)

Organisasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berusia 100 tahun. Peringatan Satu Abad ini menjadi perlu dibicarakan, bukan karena keramaian gelar acaranya, melainkan karena warga dari Nahdlatul Ulama (NU) merupakan entitas dari komunitas (etnos) yang potensial untuk memperbaiki praktik demokrasi politik formal di Indonesia yang mengalami kerusakan.

Kita tahu, kualitas demokrasi di Indonesia rendah. Nyata terjadi bahwa praktik politik kepartaian di Indonesia masih sebatas menjalankan fungsi kratos (kekuasaan) dan mengabaikan tujuannya untuk memenuhi hak warga (demos). Kualitas demokrasi baru berhasil memberikan kebebasan bagi warga untuk memilih saat pemilihan umum. Adapun hak hidup warga mendapatkan kesejahteraan masih jauh dari harapan.

Komunitas warga negara dari NU menjadi penting karena di dalamnya terdapat jutaan warga. Selain itu, organisasi PBNU di bawah Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat ini sedang gencar memperbaiki model organisasinya yang relevan dengan hak-hak kewarganegaraan.

Pembaharuan yang dilakukan Gus Yahya tepat karena ia meletakkan pelembagaan “hubungan antarmanusia” sebagai prioritas. Selain itu, Gus Yahya juga punya desain yang apik dengan usaha perbaikan relasional PBNU dengan partai politik, organisasi massa lain, dan hubungannya dengan jaringan internasional.

Baca Juga: Sejak Dulu Rempah-Rempah Indonesia Diburu Dunia

Sejauh saya amati, selama Gus Yahya menjadi Ketua PBNU, telah banyak hal yang dilakukan dengan menunjukkan “perilaku keorganisasian yang” dengan ide “koherensi berorganisasi”. Proses masih terus berlanjut. Tetapi keseriusan itu telah memperlihatkan perbedaan dari kepemimpinan sebelumnya. Fakta itu bisa kita rujuk dari dominasi wacana ke-NU-an yang sebelumnya berkutat pada isu radikalisme, berubah ke urusan keorganisasian dan sejumlah isu kewargaan yang lebih konkret mencakup kegiatan di berbagai bidang kemasyarakatan.

Menarik misalnya, tentang perbaikan keorganisasian itu bisa dilihat dari usaha PBNU mengarahkan setiap Badan Otonom (Banom) agar bekerja mengedepankan “produksi kebijakan” ketimbang “produksi event”. Mindset baru ini bagus karena bisa menjadikan PBNU bisa mengambil peran optimal sebagai lembaga pemberdayaan ketimbang sebagai event-organizer. Akan jauh lebih memberikan kesempatan kepada banyak orang memanfaatkan kesempatan dan memaksimalkan potensinya ketimbang sekadar menjadi sarana aktualisasi para pengurus.

Dengan kata lain, organisasi PBNU saat ini sedang berjalan di jalan inovasi yang sejati karena mengambil kerja “pelembagaan antarmanusia”, bukan memaksimalkan robot/teknologi atau memaksimalkan peran bangunan fisik. Cara ini sangat tepat karena secara otomatis sedang mempraktikkan “pemberdayaan diri” yang nantinya bisa berguna untuk mengepakkan dua sayap, yaitu “sayap pelayanan” dan “sayap pembangunan”.

Baca Juga: Urgensi Menjaga Identitas

Jika merujuk pada imajinasi awal Gus Yahya tentang seharusnya PBNU seperti pemerintahan negara, maka kehendak yang dimaksud itu sudah laras sebab hakikat dalam menjalankan pemerintahan itu mesti mencakup tiga hal, yaitu (service), pemberdayaan (empowerment), dan pembangunan (development).

Keseriusan yang lain dalam berorganisasi juga ditunjukkan dengan membangun narasi besar tentang hakikat hidup manusia di planet bumi dengan menghubungkan kekuatan potensial warga NU untuk membangun tatanan hidup bermasyarakat dengan istilah peradaban.

Mengubah Mental Lunatic

Narasi tentang alam dan manusia menjadi landasan kerja organisasi di PBNU. Simbol jagat dengan ikatan berbintang sembilan dari Organisasi PBNU dimaknai sebagai objektifikasi untuk mengatasi problem alam dan kemanusiaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X