Journalnusantara.com - Rempah-rempah asal Nusantara sejak dulu selalu menjadi incaran para pelaut yang melakukan penjelajahan samudera.
Sepanjang abad ke-16 dan 17, orang-orang dari benua Eropa terutama Portugis, Spanyol dan Belanda memperebutkan penguasaan tanah atas rempah-rempah di Nusantara.
Bermula, usai menaklukan bandar perdagangan Malaka pada 1511, bangsa Portugis yang dipimpin Francisco Serrao bertolak menuju pusat produksi rempah-rempah nusantara, Maluku.
Kedatangan bangsa Portugis rupanya menarik perhatian Sultan Ternate, Abu Lais, yang kemudian menawarkan pendirian benteng di Ternate dengan imbalan produksi cengkeh sepenuhnya akan dijual kepada Portugis. Portugis menyepakati kerja sama dagang tersebut.
Inilah awal mula periode kolonialisme di Indonesia, yang dimulai dari ambisi penguasaan dagang rempah-rempah yang melimpah di Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropa.
Baca Juga: Urgensi Menjaga Identitas
Berabad-abad kemudian, rempah-rempah masih menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor ke negara-negara Eropa dan Amerika.
Besarnya nilai tersebut disokong oleh keragaman jenis rempah-rempah khas Nusantara yang menjadi satu bagian tak terpisahkan dari penggalan perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Dari data Negeri Rempah Foundation, ada sekitar 400-500 spesies rempah di dunia, 275 di antaranya ada di Asia Tenggara dan Indonesia menjadi yang paling dominan hingga kemudian Indonesia dijuluki sebagai Mother of Spices.
Beberapa daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia adalah Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku, NTT, Papua, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatra Selatan, dan DI Yogyakarta.
Dari keragaman jenis dan wilayah penghasil rempah-rempah, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemasok rempah dunia yang dapat memberikan kontribusi besar bagi perekonomian Indonesia.
Setidaknya ada tujuh jenis rempah yang menjanjikan, yakni lada, kayu manis, pala, vanili, cengkeh, kunyit, dan jahe.
Baca Juga: Miris, Anggaran Kemiskinan RP500 Triliun Habis Buat Studi Banding dan Rapat di Hotel
1. Lada
Artikel Terkait
Dulu Gabung Indonesia, Kini 6 Negara Ini Memilih Pisah, Salah Satunya Timor Leste
Al-Quran Dibakar di Swedia, Menag RI: Mengancam Harmoni Umat Beragama
Miris, Anggaran Kemiskinan RP500 Triliun Habis Buat Studi Banding dan Rapat di Hotel
Dinilai Langgar UU, Farhat Abbas Somasi Bunda Corla
Urgensi Menjaga Identitas
KUR BRI 2023 Siap Dibuka Kembali, Ini Dia Syarat dan Jadwalnya
Bupati Cianjur Lantik Pejabat Baru Secara Tertutup, Dianggap Gagal Jalankan Tugas, Wartawan Dilarang Meliput
Sultan Akhyar Menjadi Dalang Dibalik Konten Tiktok Nenek-Nenek Mandi Lumpur
PT Sasa Inti Menggelarkan Acara Fun Cooking Class Bersama Ikatan Koko Cici Indonesia
Naik Drastis, India Jadi Negara Terpadat di Dunia