Membakar Kitab Suci: Kebebasan atau Pelecehan?

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 25 Januari 2023 | 08:47 WIB
Presiden Nusantara Foundation Imam Shamsi Ali.
Presiden Nusantara Foundation Imam Shamsi Ali.

Kebebasan sesungguhnya dibatasi oleh nilai moralitas yang mengikatnya. Ketika ekspresi kebebasan itu menginjak-nginjak nilai moralitas maka itu bukan kebebasan lagi. Melainkan “opressi” atau/atau “eksploitasi”.

Contoh sederhana mungkin adalah ketika saya mengekspresikan kebebasan saya dalam berbicara (freedom of speech). Saya yakin jika memang saya bebas untuk berbicara. Dan tidak satupun yang bisa membungkam mulut saya (kecuali Allah tentunya dalam perspektif agama). Tapi ketika kata-kata yang keluar dari mulut saya menghina orang, maka itu bukan kebebasan lagi. Prilaku saya itu telah merendahkan nilai moralitas kemanusiaan. Dengan sendirinya berubah menjadi opresi (kezholiman) kepada orang lain.

Baca Juga: Organisasi Islam Dunia Kecam Pembakaran Al-Quran di Swedia

Pada tataran inilah kita menilai bahwa menghina agama, Nabi dan/atau Kitab Suci, bukanlah kebebasan. Tapi merupakan “immoralitas” yang menyebabkan terjadi opresi kepada orang lain yang memuliakan agama (Tuhan, Nabi, Kitab Suci dll).

Saya akhiri dengan menegaskan kepada mereka yang melakukan pelecehan agama, Al-Quran, Nabi dan Rasul. Anda merasa pintar tapi sesungguhnya anda bodoh. Anda merasa beradab (civilized) tapi realitanya anda biadab. Dan ketahuilah buku yang anda bakar itu tidak sedikit pun mengurangi kemuliaan Al-Quran. Kami memang marah karena itu adalah rasa alami sebagai manusia sekaligus kewajiban kami untuk membelanya.

Ketahuilah, Al-Quran itu Kalam Ilahi yang tak akan pernah dihanguskan. Maka ketika anda membakar buku, yakinlah Al-Quran takkan bisa terbakar. Karena Al-Quran ada dalam penjagaan Dia Yang Maha menjaga langit dan bumi.

Pada akhirnya anda akan menyesal. Dan m ada masa anda akan sadar dan terkagum-kagum. Karena semakin anda melakukan upaya untuk meredam Al-Quran itu, cahayanya akan semakin menembus jutaan jiwa manusia di negaramu dan di seluruh penjuru dunia.

Baca Juga: Nasib Pilu Andi, Korban Gempa Cianjur Idap Penyakit Aneh Hydrocepalus

Kami akan terus jujur dengan nilai-nilai ajaran agama dan moralitas, serta nilai-nilai universal itu. Karenanya kami konsisten dengan ajaran agama dan moralitas kemanusiaan kami. Sehingga kami tidak pernah dan tak akan melecehkan agama dan keyakinan orang lain. Selain itulah adab kemanusiaan juga karena itu adalah ajaran agama kami.

Dan jika dengan kenyataan itu kalian terus memupuk kemarahan “binasalah dengan kemarahan kalian” (Ali Imran:119).

Manhattan City, 24 Januari 2023

Presiden Nusantara Foundation

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X