Catatan Perjalanan ke Masjid Terapung Gedebage

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 16 Januari 2023 | 14:33 WIB
Masjid Al Jabbar nampak dari kejauhan
Masjid Al Jabbar nampak dari kejauhan

Oleh : Nanang Gojali
Terlalu sayang jika moment perjalanan ke masjid terapung Gedebage yang pada waktu peresmiannya ditahbiskan menjadi Masjid Al-Jabbar, jika dilewatkan begitu saja tanpa meninggalkan catatan penting. Penulis memandang penting mencatat beberapa hal penting dari perjalanan menjambangi masjid yang pembangunannya menelan 1 trilyun lebih itu.

Pulang pergi Cianjur-Bandung, bagi penulis bukan perjalanan luar biasa. Setiap pekan, penulis harus melksanakan tugas sebagai ASN mengajar di kampus yang terletak di Bandung Timur, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kemarin melakukan perjalanan ke kota yang dikenal sebagai PARIS VAN JAVA bukan dalam pelaksanaan tugas mengajar, melainkan formalnya membawa misi survey perjalanan dan lokasi sebagai persiapan membawa jama’ah NGABAR untuk melakukan _rihlah diniyyah_ yang direncakan akan dilaksanakan bulan Februari.

Sejak kami memasuki jalur bebas hambatan Padaleunyi, penulis mulai minta dipandu ke _mistery guide_ google map agar mengarahkan kendaraan kami ke alamat masjid raya Al-Jabbar yang memang sudah ada pada fitur aplikasi android. Nona googliah map meminta driver agar keluar dari pintu tol Buahbatu-Dayeuh kolot, dan mengarahkan kendaraan agar berada di Jalan Soekarno Hatta/By Pass. Dari Lampu Merah Perempatan Terusan Buahbatu, kendaraan kami melesat menyusuri Jalan Nasional III hingga ujung sebelah timur. Ketika kami tiba di depan MAPOLDA JABAR, neng Gugliah mengingatkan kalau 300 meter di depan kami harus putar balik untuk kemudian masuk ke jalur menuju lokasi yang dituju, masjid Al-Jabbar. Ketika kami melihat jalur sebelah kanan ke arah berlawanan yang mengalami kemacetan yang panjang. Kemacetan panjang dan parah itu ternyata jalur yang menuju masjid Al-Jabbar. Memang, sejauh ini, jalur normal menuju lokasi masjid yang menjadi destinsi wisata di kota Bandung ini adalah jalur yang masuk dari samping kampus II UIN Bandung itu. Dalam pikiran kami, ini adalah problem pertama yang tersurvey.

Baca Juga: PCNU Cianjur, PPST Arrisalah Lirboyo dan RMI NU Putri Kediri Gelar Doa Bersama dan Ngaji Bareng Gus Hayid

Dari situ kami memutus hubungan dengan ¬_mistery guide_. Kami tidak lagi bergantung kepada petunjuknya. Kami tidak mengikuti arahan neng gugliah lagi untuk putar balik ke jalur yang macet. Kami memang putar balik tetapi langsung mengambil jalur cepat menuju komplek RIUNG BANDUNG dengan maksud hendak memasuki lokasi masjid Al-Jabbar dari arah belakang. Dengan meminta bantuan saudara yang ada di RIUNG BANDUNG, akhirnya kami bisa tiba di lokasi kira-kira pukul 14.30.

Sejak kami memasuki jalur menuju lokasi masjid, tak henti-hentinya kami berdecak menunjukkan kekaguman akan fenomena masjid Al-Jabbar. Sambil mengikuti padat merayapnya kendaraan sebelum sampai ke lokasi, penulis terus merenung betapa dahsyatnya magnet masjid yang kemegahan dan keindahannya didesain oleh Kang Emil yang sekarang menjadi orang nomor wahid di Jawa Barat ini. Dalam pikiran penulis, boleh jadi Kang Emil sendiri tidak menduga kalau hasil kreasi seninya akan sefenomenal ini. Bisa menghadirkan ratusan ribu pengunjung setiap harinya. Dan yang lebih membahagiakan, dengan adanya masjid ini, bisa meningkatkan ekonomi warga sekitar. Para pemuda penganggur hampir setiap hari mendapatkan penghasilan dari jasa parkir motor dan mobil. Warung-warung yang ada disekitar kebanjiran pembeli. Walhasil, masjia terapung Gedebage ini benar-benar membawa berkah buat warga sekitar. Penulis yakin, Kang Emil adalah orang yang paling besar jasa dan pahalanya dari pembangunan masjid ini. ¬Luar biasa.

Baca Juga: MGMP Sejarah Cianjur Beri Pendampingan Psikososial Trauma Healing bagi Korban Gempa

Dibalik semua yang melahirkan kekaguman dengan hiruk-pikuknya orang-orang yang berdatangan ke masjid yang baru seminggu diresmikan ini, dalam benak penulis ada sejumlah pertanyaan bersayap yang sangat mendasar. Apa sebenarnya yang tengah terjadi dengan fenomena masjid Al-Jabbar ini? Benarkah ini fenomena kembalinya kesadaran umat Islam akan pentingnya masjid sebagai pusat peradaban islam? Benarkah ini indikasi hadirnya kembali kebutuhan manusia akan keberadaan Allah? Atau ini sebagai fenomana sosiologis biasa, yang cenderung ingin mengetahui sesuatu yang baru? Pertanyaan bersayap ini sengaja tidak akan penulis jawab, untuk memberikan kesempatan kepada pembaca untuk mencoba menganalisisnya.

Dibalik semua keindahan dan kemegahan fisiknya, masih banyak hal berkenaan dengan masjid sebagai pusat ibadah dan peradaban yang harus segera dibenahi. Dari mulai pengamanan dan penertiban jama’ah hingga ke soal-soal manajemen imarahnya, masjid ini tampaknya masih punya banyak pekerjaan rumah. UIN sendiri sebagai etalase lembaga keislaman di Jawa Barat, sejauh ini belum diajak kerja sama untuk menata dan mengelola bidang _imaratul masjid_ nya.

Baca Juga: Profil Iko Uwais, Aktor Laga yang Kenalkan Pencak Silat ke Panggung Dunia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X