Pembangunan kehidupan komunal (jama’i) dalam Islam itu berawal dengan hijrahnya Rasulullah SAW ke kota Yatsrib pada sekitar tahun ke 13 kenabian. Perpindahan atau hijrah Rasulullah dari Mekah ke Yatsrib itu sekaligus merupakan langkah pertama (first step) dalam pembangunan kehidupan Umat secara komunal.
Itulah salah satu alasan kenapa penanggalan atau kalender Islam diawali dengan Hijrahnya Rasulullah SAW. Karena hijrah merupakan simbolisasi kebangkitan Umat secara komunal (jama’i) dan publik.
Dalam hal ini ada satu hal penting yang ingin saya garis bawahi sebagai landasan untuk memahami bagaimana Islam hadir dengan konsep kehidupan jama’i (publik) itu. Yaitu konsep “Madinah” yang sekaligus menjadi nama baru bagi kota Yatsrib tadi.
Ketika kita mendengarkan kata “Madinah” (المدينة) biasanya yang hadir di imajinasi kita adalah gedung-gedung dan segala kemajuan dunia seperti yang nampak di kota-kota besar dunia. Ambillah sebagai misal kota Manhattan (NYC), Paris, Sorbonne, Tokyo, dan lain-lain.
Baca Juga: Loker BUMN, Lulusan SMA/SMK, D3, dan S1
Madinah memang secara literal berarti kota. Tapi ternyata kata Madinah memiliki makna yang lebih jauh dari sekedar kota. Kota dengan segala kemajuan dan hiruk-pikuk dunianya hanyalah satu aspek dari kota.
Kata Madinah (المدينة) berasal dari kata “دان يدين دين” atau “Diin”. Kata diin ini menjadi pokok utama dari Madinah atau kota sebagai pusat kehidupan sebuah bangsa atau masyarakat.
Kata “diin” ini selain melahirkan kata madinah yang dipaham sebagai “perkotaan” juga dapat dimaknai sebagai “tamaddun” atau pusat peradaban. Sehingga masyarakat yang hidup di kota itu pastinya adalah masyarakat yang “mutamaddin” (civilized/berperadaban). Masyarakat dengan karakter peradaban ini dikenal secara luas dengan “masyarakat madani”.
Namun yang lebih mendasar dari semua itu, kata kata “diin” ternyata bermakna “ketaatan” kepada Pencipta langit dan bumi. Al-Quran menggariskan: “ومن اسلم وجهه لله وهو محسن فله اجره عند ربه” (Al-Baqarah: 112).
Baca Juga: Tanpa Messi dan Mbappe, PSG Hancurkan Chateauroux di Piala Perancis 2022-2023
Sehingga dengan sendirinya kata المدينة (Madinah) tidak bisa dilepaskan dari “ketaatan dan religiositas” masyarakatnya. Sebuah masyarakat atau bangsa yang beradab tak akan bisa dilepaskan dari nilai-nilai religiositas ini.
Inilah salah satu makna dari keputusan Rasulullah SAW ketika pertama kali tiba di Yatsrib adalah membangun masjid (Kuba). Masjid berarti tempat sujud. Dan sujud sejatinya dimaknai sebagai ketaatan kepada Allah SWT. Sehingga masjid yang dibangun oleh Rasulullah itu mengingatkan Umat jika kota/negara yang akan terbangun itu mutlak berkarakter ketaatan kepada Allah SWT.
Realita ini sesungguhnya juga disadari oleh para pendiri bangsa (founding fathers) baik Indonesia maupun Amerika. Indonesia terpatri pada Pancasila dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sementara di Amerika ungkapan: “Under God” atau “In God we trust” adalah ungkapan yang sangat populer.
Baca Juga: M3GAN, Film Horor Boneka Robot yang Membawa Teror bagi Pemiliknya
Kesimpulan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa Islam itu hadir membawa konsep kehidupan publik (jama’i). Dan hal yang paling mendasar dalam tatanan kehidupan jama’i dalam Islam adalah tegaknya nilai-nilai Ketuhanan (kesucian/kefitrahan) dalam kehidupan manusia.
Artikel Terkait
M3GAN, Film Horor Boneka Robot yang Membawa Teror bagi Pemiliknya
Kompleksitas Dunia Modern dan Solusi Islam (4)
Tanpa Messi dan Mbappe, PSG Hancurkan Chateauroux di Piala Perancis 2022-2023
Vaksinasi COVID-19 di Indonesia Ada di 5 Besar Dunia, Setelah Amerika Serikat, India, Brasil dan China
Didaulat Sebagai Ketua Majelis Pertimbangan DPP PPP, Begini Penjelasan Romahurmuziy
Loker BUMN, Lulusan SMA/SMK, D3, dan S1
Peduli Kemanusiaan, MGMP Sejarah Kabupaten Cianjur Salurkan Bantuan Untuk Korban Gempa
Hakim Ziyech, Pemain Chelsea yang Moncer Bersama Timnas Maroko di Piala Dunia 2022
Galang Rambu Anarki, Putra Iwan Fals Mendadak Trending di Google
Seorang Kakek 92 Tahun Hidup Sebatang Kara di Gubuk Tak Layak Tinggal