Santri Kuat di Orasi, Lemah di Literasi?

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 22 Desember 2022 | 06:42 WIB
Nanang Gojali
Nanang Gojali

Oleh : Nanang Gojali
Ketua Komisi JILIT MUI Cianjur

Santri dalam tulisan ini adalah siapapun yang mengenyam pendidikan Islam pada lembaga pondok pesantren tradisional, termasuk lulusannya yang sudah mampu meneruskan tradisi pendidikan Islam pesantren.

Dimaksud orasi dalam tulisan ini adalah kemampuan menyampaikan ilmu agama atau pesan-pesan keagamaan lewat pidato atau ceramah. Sedangkan literasi adalah kemampuan mengangkat hasil pembacaan dan pemikiran menjadi sebuah karya tulis.

Judul tulisan ini bukan memvonis atau menyimpulkan kalau santri itu hanya hebat dalam pidato tidak dalam menulis. Judul ini sebagai hipotesis saja yang akan coba dijawab melalui kajian deskriptif terhadap fenomena santri pada 2-3 dekade terakhir.

Kita coba sedikit flash back dulu ke abad ke 10-17 Masehi. Pada rentang abad itu ada tiga orang ulama besar pengarang kitab yang sangat produktif. Pada abad ke 10 ada hujjatul Islam Imam Alghazali. Beliau mengarang lebih dari 600 kitab yang semuanya sangat bermanfaat. Satu karangannya yang sangat monumental adalah kitab _Ihya ulum al-Din_.

Baca Juga: Update: 273 Juta Penduduk Indonesia Versi Kemendagri

Sudah 10 abad lamanya kitab itu menjadi referensi umat Islam di seluruh dunia. Masuk ke abad 14, ada Imam Jalaluddin As-Suyuthy, ia mengarang tidak kurang dari 200 kitab penting dalam pengembangan ilmu Islam. Semua pesantren hampir dipastikan menjadikan kitab tafsir _Al-Jalalain_ karangannya sebagai sumber bacaan standar dalam bidang tafsir, dan kitab _Al-Itqan fi Ulum Al-Quran_ dalam bidang tafsir dan ilmu Al-Quran. Memasuki abad ke 17, bangsa Indonesia punya ulama besar yang terkenal di Mekah, tempat lahirnya Islam, adalah Syeh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi. Menurut catatan KH. Ending Bahruddin, beliau mengarang tidak kurang dari 115 kitab. Sebagian besarnya diaji di hampir setiap pesantren salafiah di Indonesia.

Kenapa mereka bisa sehebat itu dan kenapa ulama generasi sekarang tidak bisa sehebat mereka? Ada sejumlah faktor yang menjadi penyebabnya. Antara lain:

1. Faktor intelektualitas.
Secara keilmuan, ulama besar pada abad pertengahan memiliki kemampuan ilmiah secara universalitas, dan tidak bersifat fakultatif seperti zaman kita sekarang. Ulama besar tempo dulu menguasai hampir seluruh ilmu keislaman. Selain itu, mereka juga memiliki kemampuan berbahasa Arab dengan baik, baik secara oral maupun literal. Sehingga mereka mampu mengkomunikasikan pendapat dan gagasan keilmuan kedalam bentuk tulisan.
2. Faktor teologis.
Secara historis, teologi mu'tazilah yang pernah diberlakukan dan berkembang pesat pada dinasti Abbasiah, yaitu oleh khalifah Al-Ma'mun (813-833 M), oleh khalifah Al-Mu'tashim (833-842 M), dan oleh khalifah Al-Watsiq (842-847 M), telah membawa pengaruh besar terhadap perubahan pemikiran umat Islam. Sejarah tidak bisa memungkiri bahwa munculnya peradaban Islam yang melahirkan gerakan renaisan di Barat, merupakan implikasi dari teologi yang mengedepankan ikhtiar dan usaha manusia ini. Penulis tidak menuduh ketiga ulama besar tadi adalah pengikut mu'tazilah. Yang penulis maksudkan bahwa kebijakan ketiga khalifah itu memberlakukan mu'tazilah sebagai teologi resmi berpengaruh bagi kehidupan umat Islam, khususnya dalam kontek doktrin kehendak bebas manusia.

Baca Juga: GP Ansor Cipanas Gelar Pengobatan Gratis dan Salurkan Bantuan bagi Korban Gempa

Ketiga tokoh ulama besar, yang semuanya beraqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah dan bermadzhab fiqh Syafi'i itu, mestinya menjadi figur identifikasi bagi para generasi ulama dalam hal produktifitas kepenulisan. Dunia Islam memang harus bangga dan perlu berterima kasih kepada ketiga ulama besar tersebut. Tetapi bangga saja tidak cukup. Terima kasih saja belum lengkap jika santri dan para ulama generasi sekarang tidak mewarisi kemampuan literasi yang mereka miliki.

Tidak boleh dipungkiri, memang ada sejumlah kecil ulama yang telah mewarisi kemampuan mengarang para ulama dahulu. Namun jumlahnya masih sangat kecil apalagi dibandingkan secara rasio dengan populasi ulama dan umat Islam. Sebagai contoh, ulama di Cianjur, menurut catatan Ajengan Ending, jumlahnya ratusan. Belum dihitung ustadz ustadzah yang tersebar di seluruh pelosok desa. Dari jumlah itu, berapa kiai yang rajin menulis, membuat ringkasan atau khulasah? Barangkali tidak akan lebih dari 10 orang saja. Tanpa menafikan yang lain, Ulama Cianjur yang dikenal banyak karangannya adalah KH. Inggi Badruzzaman almaghfur lah.

Baca Juga: Daftar Harga Set Top Box Rekomendasi Kominfo RI

Jika kemampuan ulama dan para santri hanya orasi belaka tanpa dibarengi dengan kemampuan literasi, maka dipastikan akselerasi dakwah Islam akan mengalami keterhambatan. Jika kita hanya mengandalkan kemampuan berceramah saja dalam menyampaikan pesan-pesan kebaikan, maka kita akan kalah dalam ajang _fastabiqul khairat_ dengan "orang lain" yang sudah selangkah lebih maju dari kita.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat khususnya bagi para peserta PKU-MUI.... Amiiin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X