Didalam kitab Rahmatul Ummah fi Ikhtilafil Aimmah, Syaikh Muhammad bin Abdul Rahman al-Dimasyqi, seorang ulama mazhab Syafii, menegaskan bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama merupakan rahmat bagi umat. Sebab mereka telah melakukan ijtihad dengan mengerahkan seluruh daya intelektual dan spiritual guna mencari kebenaran.
Kala Rasulullah masih hidup, perbedaan pendapat memang sangat jarang terjadi. Karena Rasulullah adalah tokoh sentral, tempat rujukan segala permasalahan yang dialami para sahabat. Karena itu jika para sahabat berselisih pendapat, mereka segera berkonsultasi kepada Rasulullah kemudian beliau menjelaskan pendapat yang benar.
Sebagaimana diriwayatkan dalam Kitab Shahih Bukhari, dahulu para sahabat pernah berbeda pendapat tentang makna sabda Nabi: “Janganlah seseorang melakukan salat asar kecuali di Bani Quraidhah."
Sebagian sahabat tetap menjalankan salat asar pada waktunya, meski belum sampai di Bani Quraidhah. Kelompok ini memaknai hadis di atas sebagai perintah untuk mempercepat perjalanan menuju Bani Quraidhah dan bukan sebagai keringanan melakukan salat di luar waktu yang telah ditentukan. Sementara sebagian lain menolak dan baru menjalankan salat ashar setelah sampai di Bani Quraidhah sesuai makna harfiah hadis.
Kemudian perbedaan dua pendapat ini disampaikan kepada Rasulullah dan beliau tidak menyalahkan atau mencaci salah satu dari kedua pendapat tersebut. Ini berarti Rasulullah membenarkan keduanya meskipun berbeda penafsiran.
Baca Juga: Memahami Kembali Perintah Zakat
Saat ini, kedewasaan berpikir dan kejernihan sikap dalam berbeda pendapat seperti ini perlu menjadi keteladanan bagi kita semua. Bahwa sesama muslim adalah bersaudara dan tidak boleh ada kebencian terhadap siapapun karena perbedaan sikap pilihan politik atau beda pandangan, janganlah ummat Islam berlebihan dalam mengagumi atau membenci kelompok lain, karena kita telah disatukan Allah dalam iman.
Nabi Muhammad SAW bersabda :
دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ: اَلْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ ، وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ ، حَالِقَةُ الدِّيْنِ لاَ حَالِقَةُ الشَّعْرِ ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا ، أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِشَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ.
Penyakit umat-umat sebelum kalian telah menyerang kalian yaitu dengki dan benci. Benci adalah pemotong; pemotong agama dan bukan pemotong rambut. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian.”[HR . Bukhari ]
Semoga kelak kita bersama dikumpulkan para ulama dan auliya di Sorga Nya. Amien …
Pengasuh Pondok pesantren Annur 1 Bululawang Malang, Ketua PBNU , Wakil Sekjen Majlis Ulama Indonesia.
Artikel Terkait
Sandiaga Uno Memastikan Liburan Natal dan Tahun Baru akan Aman untuk Wisatawan, "Jangan Khawatir"
Jadwal Perebutan Juara 3 Piala Dunia 2022: Kroasia vs Maroko
Partai Umat Layangkan Surat Gugatan Ke Bawaslu
Pencapaian PDIP dalam 3 Pemilu Sebelumnya, Mungkinkah Digeser Partai Lain di 2024?
Warga Beijing Serbu Apotek saat Lonjakan Kasus Covid di China
Perancis Maju Ke Final Lawan Argentina dan Berpotensi Juara Piala Dunia
Gunung Api Anak Krakatau Erupsi, Masyarakat Diimbau Untuk Menjauh
NGABAR Tebar Kepedulian
Dompet Kosong di Tengah Bulan? Berikut 5 Tips agar Gaji Tidak Cepat Habis
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) sedang Membuka Beasiswa untuk Dokter Spesialis