Itu sebagai pengganti kalimat keras ''mengutuk terjadinya serangan Rusia ke Ukraina''. Lewat rumusan Modi itu secara tidak langsung semua negara sudah menyatakan tidak setuju dengan serangan Rusia ke Ukraina. Tanpa menyebabkan G20 pecah.
Tentu Biden-Jinping menjadi bintang utama. Tiga jam mereka baku dapa kali pertama sebagai sesama presiden. Pun masing-masing sudah menyampaikan garis merah yang tidak boleh saling dilewati.
Biden tampak sekali menekankan: dalam hal Taiwan tidak ada perubahan sikap lama Amerika. Dan itu sudah dipegang puluhan tahun: hanya mengakui satu China, tapi melindungi Taiwan secara militer.
Yang dikhawatirkan Tiongkok adalah: Amerika akan mengakui Taiwan sebagai negara merdeka. Berarti akan ada dua China.
Jaminan Biden itu kelihatannya dianggap cukup. Yang penting Taiwan tidak merdeka. Berarti Tiongkok harus bekerja keras agar bisa membuat Taiwan kembali ke Tiongkok secara damai. Atau sekalian memancing Taiwan agar menyatakan diri merdeka, agar ada alasan menyerbunya.
Tapi di zaman ini tidak seharusnya ada lagi perang.
Yang menggembirakan: keduanya sepakat pertemuan di Bali itu diteruskan dengan kunjungan tingkat menteri. Biden segera mengirim menlunya ke Beijing. Demikian juga sebaliknya, Jinping.
"Tidak akan ada lagi perang dingin di zaman ini. Apalagi perang panas," ujar Biden.
Jabat tangan plus senyum diperlihatkan Presiden AS Joe Biden dan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat pertemuan bilateral di Nusa Dua, Bali, 14 November 2022.
Yang Biden juga tegaskan ke Jinping adalah soal Korea Utara. Agar Tiongkok mengerem Kim Jong-un. Hanya Tiongkok yang bisa mengendalikannya. Secara tidak langsung Biden bilang begitu.
Tiongkok kelihatannya memang menggunakan Jong-un untuk melampiaskan kekecewaannya pada Amerika. Khususnya soal pemasangan alat pengintai terbesar di Korsel. Yang sampai bisa mengawasi Tiongkok. Biden mengatakan, itu untuk mengawasi Korea Utara. Amerika harus melakukan itu untuk melindungi sekutunya: Korsel dan Jepang.
Rasanya Biden juga minta Jinping untuk berperan mengakhiri perang di Ukraina. Mungkin saja bisa. Yang sulit adalah mencarikan alasan agar Rusia mundur dari Ukraina.
Apakah mungkin dicarikan komitmen dari Barat: Ukraina tidak akan diterima menjadi anggota NATO. Ini cukup alasan bagi Rusia untuk mengakhiri perang. Sedang pengeluaran bantuan untuk perang bisa diabadikan untuk pembangunan ekonomi Ukraina.
Yang jelas Bali mencatatkan diri sebagai tempat terjadinya titik tolak peredaan ketegangan dunia.
Artikel Terkait
Isu Perang Dunia Pecah di Media Sosial, Usai Rudal Rusia Menghantam Polandia NATO
Sidang Mediasi Anne Ratna Mustika dan Dedi Mulyadi Digelar, Begini Putusannya
Kacau Dah...US Pura-pura Mati demi Hindari Penagih Utang, Kok Bisa ?
Diduga SMAN 3 Kota Bekasi Pungut Iuran dari Orangtua Siswa, Gubernur Jabar Murka dan Utus Kadisdik
Waduh...Gubernur Jabar Utus Kadisdik Telusuri Dugaan SMAN 3 Kota Bekasi dan Komite Sekolah Pungut Iuran
KTT G20 Telah Usai, Presiden Jokowi Sampaikan Hasilnya yaitu Bali Leaders Declaration dan Concrete Deliverable
Ulang Tahun Sule Ke - 46, Natalie Holscher Hadir Didamping kekasih Barunya
Usai Akui Berhubungan Badan dengan RD, Denise Chariesta Kini Diduga Terkena HIV AIDS, CEK FAKTA
Dipicu Perebutan Pasar Kang Cecep Tantang Duel Bang Edi di Jalanan
Jadwal Lengkap Pertandingan Piala Dunia FIFA 2022 di Qatar