Oleh Jacob Ereste
Kenegarawanan (Statesmanship) terkait dengan kepemimpinan (Leadership) baik formal maupun informal yang harus mampu menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan serta harkat dan martabat bangsa. Bahkan harus mampu menyelamatkan bangsa dan negara saat menghadapi ancaman dari pihak manapun dan dalam bentuk apapun.
Baca Juga: Leadership With Statesmanship Sebagai Watak dan Sikap Kenegarawanan
Kaitan antara leadership dengan statesmanship seperti diungkap dalam pepatah "sepasukan domba yang dipimpin oleh seekor singa akan sangat mudah mengalahkan sepasukan singa yang dipimpin oleh domba. Jadi, the skillful leadership itu yang merupakan the statesmanship.
Atas pemahaman serupa itu, maka jelas fungsi dan tugas seorang negarawan adalah mendesain mada depan, menyusun perencanaan pembangunan nasional, menggerakkan segenap sumber daya yang ada melalui tahapan, prioritas hingga target pembangunan berhasil dicapai.
Karena itu, ketimpangan hidup rakyat perlu segera diatasi. Daulat rakyat harus dikembalikan. Pemerataan dan azas keadilan juga segera dipulihkan. Hingga budaya korupsi, berjanji bohong tak hendak mendengar aspirasi rakyat harus dan wajib dibersihkan.
Jika etik profetik tuntunan dan ajaran yang dibawa oleh para Nabi ke bumi untuk manusia dan dapat menjadi pegangan bersama, maka kemarahan rakyat hingga terpaksa menggunakan diksi tolol dan bajingan itu tidak akan pernah terjadi di negeri ini.
Keterkaitan antara statesmanship dengan leadership bisa lebih dipahami dalam perspektif tradisi budaya leluhur kita, yaitu "hasta brata" seni kepemimpinan untuk negara dan bangsa yang meliputi watak yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dengan simbol, matahari, bukan, bintang, angin, air, samudera, bumi dan api. Di dalam simbol itu meliputi anabling leader, team building leader, visioning and master leader, soul-mate leader, democratic leader, creative, wise and decesive leader, prosperity leader, dan justice and lawful leader.
Baca Juga: Kapitalisasi Kebohongan demi Raihan Ambisi Diri
Setidaknya untuk kukuhnya sikap dan sifat kenegarawanan, ungkap Prof. Sri-Edi Swasono bisa juga mengacu pada trilogi kepemimpinan Ki. Hajar Dewantoro, "ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso", dan "tut wuri handayani".***