Oleh : Nunu A Hamijaya
Pemikiran tentang sebuah Negara Kebangsaan yang merdeka bagi pribumi Hindia Belanda digagas pula oleh Partai Indishe Partey-nya (1912 di Bandung) tiga serangkai yaitu dr. Tjipto Mangunkusumo, dr. Douwes Dekker dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Partai inilah yang menjadi anutan kaum intelektual pribumi didikan Barat, termasuk Soekarno-Hatta, yang menghendaki adanya national-state pada tahun 30-an.
Ernest François Eugène Douwes Dekker (lebih dikenal sebagai Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi) diakui Soekarno sebagai patron-rujukan-nya dalam berpolitik sehingga melahirkan Partai Nasional Indonesia (PNI,1927). Dialah yang pertama kali menyerukan semboyan Indie los van Holland (Indonesia lepas dari negeri Belanda). Ia pula yang mengajak kaum Indo-Eropa untuk tidak lagi menyebut diri sebagai orang Eropa. “Ik ben Indisch, Ik ben Indonesier! Aku seorang Indo, aku bangsa Indonesia.
Baca Juga: Membeli Kendaraan Tanpa Surat Patut DIduga Adalah Hasil Kejahatan
Sementara itu, Soewardi di harian De Express milik Douwes Dekker menulis artikel yang terkenal berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Sedangkan dr Tjipto Mangoenkoesoemo, berusaha membelanya dengan menulis di majalah Indische Partij yang bernama Het Tijdschift dan De Express, dengan judul Kekuatan atau Ketakutan. Kritik Soewardi itu berbuntut penangkapan dirinya. Ia dibuang ke Pulau Bangka.Sedangkan Tjiptomangunkusomo dibunag ke Pulau Banda.
Indonesia yang Terjajah : Zelfbestuur (1916) vs Manifesto Politik (1925)
Munculnya kelompok nasionalis sekuler dalam perjuangan Indonesia Bernegara terumuskan dalam suatu manifesto politik 1925. Rumusan ini merupakan hasil pemikiran kalangan intelegensia bumiputera yang belajar di Belanda. Mereka tergabung dalam organisasi De Indische Vereeniging (1922)
Indische Vereeniging atau Perhimpunan Hindia adalah organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda yang berdiri pada tahun 1908. Indische Vereeniging berdiri atas prakarsa Soetan Kasajangan Soripada dan R.M. Noto Soeroto yang tujuan utamanya mengadakan pesta dansa dan pidato - pidato.
Awalnya, Indische Vereeniging tak lebih dari ajang pertemuan pelajar asal tanah air. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging sejak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryadiningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai eksterniran akibat kritik mereka lewat tulisan di koran De Expres (Nagazumi, 1986; Ingleson, 1975).
Baca Juga: Manfaat Buah Jeruk Nipis
Pada September 1922, saat pergantian ketua DR. Soetomoe dan Herman Kartawisastra, organisasi ini berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging.
Ini adalah ‘organisasi orang Indonesia’ oleh ‘orang Indonesia’ dengan menggunakan nama ‘Indonesia’ yang pertama (Elson, 2008, h. 23). Para anggota Indonesische juga memutuskan untuk menerbitkan kembali majalah Hindia Poetra dengan Mohammad Hatta sebagai pengasuhnya. Majalah ini terbit dwi bulanan dengan 16 halaman dan biaya langganan seharga 2,5 gulden setahun. Disepakati pula, setiap tulisan tak ada nama pengarang agar ‘isinya mencerminkan pendapat kolektif’. Penerbitan Hindia Poetra itu kemudian menjadi “praktik” manjur bagi para intelektual muda itu menyebarkan ide-ide anti kolonial (Yandi, 2012).
Kata "Indonesia" yang semula hanya merupakan konsep geografis dan antropologis, ketika dipakai menjadi nama organisasi oleh "segelintir pemuda terpelajar dari tanah Hindia", menurut sejarawan Taufik Abdullah, serta merta menjadi konsep politik.
Dari akar inilah muncul gerakan-gerakan nasionalis sekuler lainnya seperti Partai Nasional Indonesia (PNI) 4 Juli 1927, Partai Indonesia (Partindo) April 1931, Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru) Desember 1933, Partai Indonesia Raya (Parindra) 26 Desember 1935, Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) 24 Mei 1937.