opini

Hery Haryanto Azumi dan Dinamika Regenerasi Kepemimpinan NU Menjelang Muktamar 2026

Kamis, 23 Juli 2026 | 13:06 WIB

Ketua: M. Rizki Maulana, S.Pd (SABUMESTA (FORUM DISKUSI KADER MUDA NAHDLIYIN)

Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang akan menentukan arah kepemimpinan organisasi untuk masa khidmat 2026–2031, berbagai gagasan mengenai regenerasi kepemimpinan mulai menjadi perbincangan di kalangan warga Nahdliyin.

Bersamaan dengan itu, sejumlah nama dengan latar belakang kaderisasi, pengalaman organisasi, dan keterlibatan dalam aktivitas ke-NU-an turut muncul dalam berbagai diskusi informal maupun ruang-ruang pemikiran warga NU.

Salah satu nama yang sesekali disebut dalam percakapan mengenai regenerasi kepemimpinan tersebut adalah Hery Haryanto Azumi.

Sosok yang pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) itu dikenal memiliki perjalanan organisasi yang berangkat dari tradisi kaderisasi Nahdlatul Ulama.

Dalam perjalanan organisasinya, Hery Haryanto Azumi terpilih sebagai Ketua Umum PB PMII melalui Kongres XV PMII tahun 2005.

Pada masanya, berbagai isu kebangsaan, penguatan kaderisasi, pengembangan kepemudaan, serta penguatan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi bagian dari dinamika yang berkembang di lingkungan organisasi.

Selepas dari kepemimpinan PB PMII, Hery tetap terlibat dalam berbagai aktivitas sosial, kebangsaan, dan ke-NU-an. Ia juga pernah mengemban amanah sebagai Wakil Sekretaris Jenderal PBNU pada salah satu periode kepengurusan.

Pengalaman tersebut menjadikannya bagian dari sejumlah kader yang pernah berproses baik di lingkungan organisasi mahasiswa maupun struktur jam'iyah Nahdlatul Ulama.

Bagi banyak pihak, pembicaraan mengenai kepemimpinan NU menjelang muktamar pada hakikatnya tidak semata-mata berkaitan dengan figur tertentu, melainkan tentang bagaimana organisasi besar yang telah memasuki abad kedua mampu menyiapkan kader-kader terbaiknya untuk menjawab tantangan zaman.

Isu transformasi digital, penguatan ekonomi warga, pendidikan, kemandirian pesantren, hingga penguatan peran NU dalam percaturan global menjadi tantangan yang memerlukan perhatian bersama.

Dalam konteks tersebut, munculnya berbagai nama merupakan bagian dari dinamika organisasi yang wajar. Setiap kader yang memiliki rekam jejak pengabdian, pengalaman kepemimpinan, dan keterlibatan dalam aktivitas jam'iyah tentu dapat menjadi bagian dari diskursus yang berkembang di tengah warga Nahdliyin.

Namun demikian, seluruh proses kepemimpinan pada akhirnya akan mengikuti mekanisme organisasi sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Karena itu, pembahasan mengenai figur-figur yang berpotensi tampil dalam dinamika muktamar lebih tepat dipahami sebagai bagian dari proses regenerasi dan refleksi organisasi.

Halaman:

Tags

Terkini

Memerdekakan Meja Makan, Memerdekakan Bangsa

Rabu, 22 Juli 2026 | 05:52 WIB

Sesudah Perayaan

Selasa, 21 Juli 2026 | 07:13 WIB

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB