opini

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB
AS dan Iran akan melanjutkan perundingan tidak langsung di Doha soal pencairan aset senilai 6 miliar dolar AS. (Ilustrasi: Unsplash.com/@borderpolarphotographer)

Karena itu, kemampuan dalam negeri terus ditanam. Tidak semuanya berhasil, tidak semua persoalan selesai. Inflasi, pengangguran, dan tekanan ekonomi tetap menjadi kenyataan yang dihadapi.

Persoalan-persoalan sosial termasuk masalah emansipasi perempuan masih menjadi tantangan terjal. Namun di balik segala keterbatasan itu, ada tekad untuk tidak menyerahkan masa depan kepada tekanan eksternal.

Pelajaran bagi Indonesia

Berbeda dengan Iran, Indonesia tidak tumbuh dalam rongrongan dan kepungan yang sama, melainkan dalam ruang yang lebih lapang. Tetapi kelapangan itu membawa risiko lain: rasa aman yang berlebihan, ketergantungan yang halus, dan penundaan kemandirian.

Dari sini pelajaran menjadi jelas.

Kemandirian harus menjadi kerja panjang di bidang pangan, energi, teknologi, dan industri strategis. Institusi harus lebih kuat dari individu, agar arah tidak goyah saat tokoh berganti.


Resiliensi harus menjadi budaya, bukan reaksi kemampuan belajar dari perubahan, bukan sekadar bertahan darinya. Dan kepemimpinan harus bersahaja sekaligus berintegritas dan berwawasan jauh, agar kepercayaan dan arah tetap terjaga.

Sebab pada akhirnya, ketangguhan tidak ditentukan oleh kerasnya dunia, melainkan oleh kesungguhan sebuah bangsa membangun dirinya sendiri sebelum terlambat.

Halaman:

Tags

Terkini

Kepemimpinan yang Dibutuhkan NU

Selasa, 18 Agustus 2026 | 22:12 WIB

Merdeka dari Kemiskinan

Senin, 17 Agustus 2026 | 11:32 WIB

Diantar Sosiologi

Minggu, 9 Agustus 2026 | 15:57 WIB

Refleksi atas Berakhirnya UHC di Kabupaten Cianjur

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:08 WIB

Berguru pada Pohon

Minggu, 2 Agustus 2026 | 10:24 WIB

Memerdekakan Meja Makan, Memerdekakan Bangsa

Rabu, 22 Juli 2026 | 05:52 WIB

Sesudah Perayaan

Selasa, 21 Juli 2026 | 07:13 WIB