Oleh: Erlis Purnama Endah Rachmawati (Kepala SMPNU Cianjur)
Setiap tanggal 20 Mei, kita rutin merayakan Hari Kebangkitan Nasional. Mengenang Boedi Oetomo tahun 1908 sebagai fajar menyingsingnya kesadaran berbangsa.
Namun, di tengah gemuruh abad ke-21 yang serbadigital dan cepat berubah, sebuah pertanyaan mendasar layak kita ajukan bersama: Setelah merdeka sebagai satu bangsa, sudahkah kita bangkit sebagai sebuah peradaban yang beradab?
Maju secara teknologi dan ekonomi adalah satu hal, tetapi menjadi bangsa yang beradab adalah perkara lain. Sejarah mencatat banyak peradaban runtuh bukan karena kekurangan orang pintar atau teknologi, melainkan karena keroposnya fondasi moral.
Di sinilah kita harus berani menunjuk satu titik awal: pendidikan. Pendidikan adalah akar pohon peradaban. Jika akarnya rapuh, polesan seindah apa pun pada batang dan daunnya akan sia-sia saat badai disrupsi datang menerpa.
Dua Kompas Zaman: Kejujuran dan Kesiapan Mental
Menghadapi masa depan, pendidikan tidak boleh lagi sekadar menjadi mesin cetak nilai di atas selembar ijazah, ia harus mampu melapaui itu semua. Penulis melihat terdapat dua nilai (values) krusial yang mendesak untuk dihidupkan kembali sebagai kompas generasi muda, yaitu kejujuran dan kesiapan mental.
Pertama, kejujuran. Kita hari ini hidup di era post-truth, di mana batasan antara fakta, opini, dan manipulasi informasi menjadi sangat samar. Kejujuran dalam pendidikan bukan lagi sekadar slogan "jangan mencontek saat ujian". Lebih dari itu, ini adalah tentang integritas ilmiah dan otentisitas diri.
Kita butuh generasi yang jujur mengakui keterbatasan ilmu, jujur dalam menyajikan data, dan berani bersuara untuk kebenaran. Pintar tanpa integritas hanya akan melahirkan kejahatan kerah putih yang makin canggih.
Kedua, kesiapan mental. Dunia modern tidak lagi menjanjikan kepastian karier atau stabilitas linier. Pekerjaan yang ada hari ini bisa hilang besok pagi digantikan kecerdasan buatan. Oleh karena itu, kurikulum terbaik adalah kurikulum yang membangun resiliensi (daya lenting) dan agilitas (kelenturan berpikir).
Generasi masa depan harus dibentuk menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learners) mereka yang siap belajar hal baru (learn), membuang ilmu yang usang (unlearn), dan mempelajari kembali keterampilan baru (relearn).
Menghidupkan Sinergi Trilogi Pendidikan
Membebankan tanggung jawab besar ini hanya pada pundak guru di sekolah adalah sebuah kekeliruan sistemik. Kebangkitan adab hanya bisa diraih melalui orkestrasi yang harmonis dari tiga pilar ekosistem pendidikan: rumah, lingkungan sosial, dan sekolah.
Rumah harus menjadi ruang dialog yang manis. Rumah tidak boleh menjadi pengadilan tempat anak dihakimi, bukan pula sekadar hotel tempat menumpang tidur.