opini

Menari dalam Absurditas: Sebuah Manifesto Kemerdekaan, Cermin Diri & Estafet Peradaban

Senin, 27 April 2026 | 11:21 WIB
Taupik Rohmansyah. (FOTO: Ist)

Epilog: Estafet Tanpa Garis Finish

Apakah pekerjaan ini akan selesai? Tidak. Dan itulah keindahannya. Peradaban adalah sebuah sungai yang terus mengalir. Hidup kita bukanlah sebuah perlombaan lari cepat menuju garis finish kematian, melainkan Estafet Keabadian.

Perjuangan untuk sadar tiap detik adalah warisan terpenting. Setiap trauma yang kita sembuhkan dalam diri adalah satu rantai trauma yang terputus bagi anak-cucu kita. Kita membersihkan cermin hari ini agar generasi masa depan tidak perlu mewarisi cermin yang buram. Maka, mari rayakan absurditas ini. Mari bermain dengan riang di taman kehidupan yang sederhana ini. Karena pada akhirnya, kitalah penjaga nyala api kesadaran yang tak boleh padam.

Halaman:

Tags

Terkini

Diantar Sosiologi

Minggu, 9 Agustus 2026 | 15:57 WIB

Refleksi atas Berakhirnya UHC di Kabupaten Cianjur

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:08 WIB

Berguru pada Pohon

Minggu, 2 Agustus 2026 | 10:24 WIB

Memerdekakan Meja Makan, Memerdekakan Bangsa

Rabu, 22 Juli 2026 | 05:52 WIB

Sesudah Perayaan

Selasa, 21 Juli 2026 | 07:13 WIB

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB