opini

Menari dalam Absurditas: Sebuah Manifesto Kemerdekaan, Cermin Diri & Estafet Peradaban

Senin, 27 April 2026 | 11:21 WIB
Taupik Rohmansyah. (FOTO: Ist)

Epilog: Estafet Tanpa Garis Finish

Apakah pekerjaan ini akan selesai? Tidak. Dan itulah keindahannya. Peradaban adalah sebuah sungai yang terus mengalir. Hidup kita bukanlah sebuah perlombaan lari cepat menuju garis finish kematian, melainkan Estafet Keabadian.

Perjuangan untuk sadar tiap detik adalah warisan terpenting. Setiap trauma yang kita sembuhkan dalam diri adalah satu rantai trauma yang terputus bagi anak-cucu kita. Kita membersihkan cermin hari ini agar generasi masa depan tidak perlu mewarisi cermin yang buram. Maka, mari rayakan absurditas ini. Mari bermain dengan riang di taman kehidupan yang sederhana ini. Karena pada akhirnya, kitalah penjaga nyala api kesadaran yang tak boleh padam.

Halaman:

Tags

Terkini

Obor Hijriah Perangi Korupsi

Selasa, 16 Juni 2026 | 20:05 WIB

Sekolah Garuda dan Kasta Baru Pendidikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:35 WIB

Menguji Keberanian Mengungkap Gurita Korupsi MBG

Selasa, 9 Juni 2026 | 15:57 WIB

Mengetuk Pintu Malam yang Terkunci Dosa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:16 WIB

Estetika sebagai Basis Etika dan Kejayaan Bangsa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:10 WIB

Apa yang Harus Dilakukan Prabowo?

Senin, 8 Juni 2026 | 10:38 WIB

Democracy for Realists: Pelajaran bagi Indonesia

Minggu, 7 Juni 2026 | 07:56 WIB

Meruntuhkan Tembok Nepotisme

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:15 WIB

Merajut Keadilan, Mengikis Kolusi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Menghancurkan Benalu Korupsi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:02 WIB