opini

Makna di Balik Anyaman Janur Lebaran

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:46 WIB
Flofi Kasih menunjukkan teknik mengisi dan mengikat ketupat agar empuk, lezat, dan tahan lama saat disajikan. (Tangkapan Layar YouTube Fluffy Kasih)

JOURNALNUSANTARA.COM - Anyaman janur kuning yang mulai bergantungan di pasar tradisional menandakan hari kemenangan sudah di pelupuk mata.

Ketupat bukan sekadar hidangan pelengkap opor ayam yang wajib ada di meja makan keluarga.

Ia adalah simbol filosofis yang mendalam tentang kerumitan hidup dan ketulusan hati untuk memaafkan.

Proses menganyam sehelai demi sehelai janur menggambarkan betapa rumitnya perjalanan manusia selama setahun penuh.

Ada kesalahan yang terselip, ada ego yang terkadang mengunci, seperti janur yang harus saling mengait agar kuat.

Beras yang dimasukkan ke dalam kulit janur melambangkan nafsu duniawi yang harus dikekang agar tidak meluap keluar.

Ketika direbus dalam waktu lama, beras yang terhimpit itu justru berubah menjadi padat, putih, dan suci.

Ini adalah cerminan dari proses pembersihan diri setelah sebulan penuh menahan lapar dan dahaga di bulan suci.

Warna janur yang tadinya kuning cerah berubah menjadi kecokelatan setelah melewati panasnya api perebusan.

Sama halnya dengan manusia yang menjadi lebih dewasa dan matang setelah berhasil melewati ujian kesabaran.

Tradisi membuat ketupat secara mandiri di rumah kini mulai tergerus oleh kepraktisan barang siap saji.

Padahal, di sela jemari yang sibuk menganyam, ada obrolan hangat dan tawa yang mempererat tali silaturahmi.

Ketupat mengajarkan kita bahwa untuk mencapai kesempurnaan bentuk, diperlukan ketelitian dan kesabaran yang luar biasa.

Tidak ada jalan pintas untuk menghasilkan ketupat yang legit dan tahan lama tanpa proses masak yang benar.

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB